Posted by: pkab | 5 November 2008

Pelajaran Sains Masih Bersifat Hafalan


Sekitar 250 mahasiswa mengikuti seleksi daerah Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Se-Indonesia 2008 di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (3/11). Seleksi daerah dilaksanakan serentak di sejumlah perguruan tinggi di 31 provinsi dan diikuti sekitar 4.000 peserta dari 38 PTN dan 21 PTS untuk menuju ajang final pada Desember mendatang.

Sekitar 250 mahasiswa mengikuti seleksi daerah Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Se-Indonesia 2008 di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (3/11). Seleksi daerah dilaksanakan serentak di sejumlah perguruan tinggi di 31 provinsi dan diikuti sekitar 4.000 peserta dari 38 PTN dan 21 PTS untuk menuju ajang final pada Desember mendatang.

Depok, Kompas – Pelajaran sains di sekolah masih berfokus pada hafalan serta belum diajarkan secara menyenangkan dan kontekstual. Akibatnya, minat belajar dan pengembangan sains di Indonesia masih terbatas.

Di tingkat perguruan tinggi, misalnya, hanya sekitar 5 persen dari total 4,3 juta mahasiswa yang tertarik mendalami bidang sains.

Padahal, untuk membangun kemajuan bangsa di berbagai bidang diperlukan sedikitnya 10 persen mahasiswa bidang sains. 

“Dari penelitian yang ada, kemampuan sains pelajar kita itu masih sebatas menghafal. Itu pun belum mengerti apa kaitan sains yang dihafal itu dengan kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini ironi di tengah prestasi sains pelajar di tingkat internasional,” kata Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, dalam pembukaan Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Se-Indonesia (OSN-PTI) 2008 di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Senin (3/11).

OSN-PTI pertama ini merupakan hasil kerja sama Universitas Indonesia dan PT Pertamina dengan total hadiah Rp 1 miliar. Sebanyak 4.233 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta terdaftar sebagai peserta lomba bidang Matematika, Fisika, dan Kimia

Menurut Fasli, pembelajaran sains sangat bergantung pada guru. Hanya guru yang menguasai pedagogik yang dapat menghasilkan pembelajaran sains yang menyenangkan. ”Ini tantangan yang berat untuk mencetak guru seperti itu,” kata Fasli.

Sangat terbatas

Dari laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2006, kompetensi sains siswa Indonesia usia 15 tahun (SMP) sebanyak

61,6 persen di bawah level 1 dan level 1, yaitu memiliki pengetahuan sains sangat terbatas. Padahal, siswa SMP diharapkan minimal di level 2, yakni bisa melakukan penelitian sederhana. Siswa Indonesia belum ada yang mencapai level 6 (tertinggi), yakni secara konsisten mampu mengidentifikasi, menjelaskan, serta mengaplikasi pengetahuan dan sains dalam berbagai situasi kehidupan yang kompleks.

Rektor UI Gumilar R Somantri mengatakan, persepsi masyarakat mengenai sains yang menakutkan dan tidak menarik perlu diubah. Sains yang penting bagi kehidupan, menarik, kontekstual, serta berperan dalam perubahan dan peradaban perlu terus disosialisasikan. Contohnya, penemuan listrik Thomas Alfa Edison yang bisa mengubah kehidupan manusia.

“UI tidak mungkin menjadi world class university tanpa menguasai dan mengembangkan sains. Karena itu, modernisasi laboratorium dan pendidikan sains ditingkatkan,” kata Gumilar.

 

Stereo Impact

Contoh Peta Konsep: Stereo Impact Dengan Peta Konsep maka terlihat kaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain. Ini lebih memacu semangat otak untuk memahami lebih dalam lagi.

 OSN-PTI 2008, menurut Gumilar, menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan kompetisi sains di perguruan tinggi. Mahasiswa yang berprestasi di bidang sains akan difasilitasi untuk pengembangan potensinya secara maksimal.

 

Fasli mengungkapkan, dari hasil ujian masuk mahasiswa perguruan tinggi 2008, diketahui untuk beberapa jurusan sains antara kapasitas dan mahasiswa yang mendaftar serta yang lulus jauh di bawah kapasitas.

Untuk itu, pada tahun 2009, Depdiknas akan melakukan sosialisasi melalui universitas kepada berbagai pengguna lulusan. ”Tujuannya untuk memperjelas betapa luasnya karier yang bisa dikembangkan oleh orang dengan latar belakang sains,” ujar Fasli.

Source: Kompas

 


Baca juga artikel Lebih Baik Paham Daripada Hafal!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: