Posted by: pkab | 11 September 2008

RI Bisa Menjadi Negara Penghasil Photovoltaic Terbesar di Dunia


 

Silica

Silica

Suhendra – detikFinance – Kamis, 11/09/2008 17:20 WIB, Jakarta – Indonesia berpeluang menjadi negara penghasil komponen photovoltaic terbesar di dunia dengan memiliki kandungan deposit sebesar 12 juta ton pasir silika. Selama ini komponen photovoltaic merupakan produk olahan hasil pasir silika, yang bisa digunakan untuk mengolah energi panas matahari menjadi energi listrik. Hal ini dikatakan oleh Direktur Industri Elektronika Ditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian (Depperin) Abdul Wahid di pabrik Sharp Pulogadung, Jakarta, Kamis (11/9/2008).

“Pasir silika jangan sampai dibebaskan pajak ekspornya, karena potensi industri IC dan photovoltaic solar kita sangat besar di dunia, yaitu mengubah energi foton dari matahari menjadi listrik,” ujarnya. Ia menambahkan dari hasil data sementara kandungan deposit pasir silika untuk wilayah Sumatra Utara saja mencapai 12 juta ton, belum lagi beberapa wilayah lainnya. Selama ini diakuinya, banyak investor yang masih ragu-ragu masuk ke sektor ini karena adanya kekhawatiran pasokan pasir silika tidak terpenuhi karena adanya ijin ekspor pasir silika.

“Untuk menghasilan 1 megawatt butuh 14 ton pasir silika, investasi yang dikeluarkan pun relatif sedikit,” jelasnya. Di negara-negara maju seperti AS, lanjut Wahid, permintaan industri olahan dari pasir silika terus meningkat bahkan beberapa tahun terakhir naik hingga 2 sampai 3 kali lipat. Selain itu nilai tambah dari komoditas ini cukup tinggi, ia mencontohkan untuk proses pengolahan dari pasir silika menjadi poli kristal (bahan baku proses photovoltaic) membutuhkan investasi yang tidak besar dengan nilai tambah yang berkali-kali lipat.

“Kalau kita olah pasir silika yang per kilonya Rp 100 menjadi poli kristal maka bisa naik harganya menjadi Rp 400.000 per kilo,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, untuk industri pengolahan investasi di sektor hulu ditahapan mineral setidaknya membutuhkan investasi Rp 10 miliar sampai Rp 20 miliar saja. “Tetapi ini tergantung dari kemauan pemerintah, untuk mengembangkan bahan baku ini,” harapnya. (hen/qom)

Sumber: Detik Finance


Sur berkomentar: Sebaiknya Indonesia memprosesnya terlebih dahulu, jangan melulu mengekspor dalam kondisi bahan mentah. Karena dengan kristal silika maka industri di Indonesia bisa lebih murah mendapatkannya untuk dikembangkan ke tahapan selanjutnya. Jangan sampai kita melulu menjadi pengimpor hasil produksi orang luar negeri.

Pikirkan long-term target, apalagi kalau kita bisa gali di WIPO IPDL (Intellectual Property Digital Library) dengan memberikan kata kunci: silica crystal maka bisa ditemukan patent yang berhubungan dengannya. Kalau patent itu sudah berumur lebih dari 20 tahun maka sudah expired dan menjadi public domain. Kesempatan bagi kitalah untuk mulai memanfaatkan hasil riset dari negara-negara maju untuk memanfaatkan sumber daya alam yang luar biasa ini untuk kemajuan rakyat Indonesia.

Berulang-ulang kali dalam kelas Intellectual Property Right diucapkan oleh banyak Profesor yang menjadi pengajar Sur mengatakan bahwa Jepang itu miskin dalam hal natural resources dan tidak memiliki sumber energi sendiri. Jadi mereka harus menjadi bangsa yang bergantung pada Intellectual Property dan Know How mereka dalam mengolah bahan mentah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi seperti elektronik, kimia, dll.

Dari sinilah timbul kesadaran penuh bahwa kondisi Indonesia sebenarnya sungguh diberkahi oleh Tuhan dengan natural resources yang melimpah. Dan saatnya sekarang inilah untuk Indonesia memasuki abad industrialisasi bagi dirinya sendiri dengan memanfaatkan informasi patent yang sudah terakumulasi sekitar 30 juta patent di WIPO, terutama yang sudah expired (public domain).

Sering juga yang dijadikan latar belakang dalam awal pengajaran di kelas adalah: Jepang setelah usai perang dunia II hancur luluh lantak dan menjadi negara undevelop country. Dalam tempo 20-30 tahun mereka mengcopy habis teknologi negara maju US dan Eropa saat itu, untuk membangun industri mereka. Barulah setelah itu dimulai Jepang melakukan membuat patent sendiri. Jadi Sur pikir Indonesia tidak perlu ragu-ragu lagi untuk secara serentak dari pucuk pimpinan (Presiden) sampai para mentrinya bersatu-padu untuk mencanangkan Kebangkitan Industri Indonesia pada 100 Tahun Kebangkitan Indonesia di 2008 ini.

Prof. Haru-Hisa Uchida memberikan hadiah DVD yang berisi film berdurasi 18 menit tentang penemuan dari Dr. Shigeyoshi Matsumae (Founder dari Tokai University) tentang From Long Distance Non-loaded Cable Carrier Communication System untuk kemajuan dunia telekomunikasi setelah penemuan Morse dan Teleponnya Graham Bell. Jepang saat itu tergantung dengan coil yang perlu membayar royalti mahal ke US. Sehingga pemerintah Jepang memberikan dorongan dan bantuan kepada team dari Dr. Matsumae sehingga terciptakan patent asli Jepang.

Dalam film tersebut terlihat bagaimana proses dari ide sampai jadi sistem dan diperlihatkan juga kabel bawah laut yang melintasi Jepang dan China (bahkan akhirnya ke seluruh dunia). Dari keyakinan dan impian Dr. Matsumae untuk mengatasi masalah komunikasi yang saat itu hanya terbatas sampai 200-300 KM saja.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: