Posted by: pkab | 1 September 2008

Kelautan dan Perikanan Berpotensi Sumbang Rp 750 Triliun


Kapal Republik Indonesia (KRI) Pulau Rangsang menangkap dua kapal ikan Thailand yang mencari ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Sebanyak 29 anak buah kapal (ABK) dengan barang bukti 55 drum ikan diamankan di Pangkalan Laut Pontianak. Tampak beberapa ABK kapal memperlihatkan kompartemen berpendingin untuk ikan tangkapan di Pangkalan Laut Pontianak.

Kapal Republik Indonesia (KRI) Pulau Rangsang menangkap dua kapal ikan Thailand yang mencari ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Sebanyak 29 anak buah kapal (ABK) dengan barang bukti 55 drum ikan diamankan di Pangkalan Laut Pontianak. Tampak beberapa ABK kapal memperlihatkan kompartemen berpendingin untuk ikan tangkapan di Pangkalan Laut Pontianak.

JAKARTA, MINGGU – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) mengungkapkan, sektor kelautan dan perikanan berpotensi memberikan sumbangan terhadap anggaran negara sebesar Rp 750 triliun dari rencana APBN 2009 lebih dari Rp 1.000 triliun.

Ketua Umum HNSI, Yusuf Sholichien di Jakarta, Sabtu (30/8) mengatakan, sumbangan sektor kelautan dan perikanan terhadap anggaran negara sebesar itu bisa direalisasikan jika pengolaannya dilakukan secara maksimal serta mendapatkan perhatian dari pemerintah. (Sur bertanya kepada HNSI: Bisakah kita bertemu darat untuk membuat Peta Konsep bersama-sama agar bisa membuat rekomendasi kepada Pemerintah agar mereka dapat dengan mudah mencerna dan melaksanakannya?)

“Hingga saat ini perhatian pemerintah terhadap sektor kelautan dan perikanan masih sangat minim sehingga kontribusi terhadap pendapatan negara juga rendah. Dari anggaran 100 miliar dollar AS dari kelautan bisa 75 miliar dollar,” katanya di sela Wisuda Program Diploma 4 Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, Angkatan 40.

Dikatakannya, saat ini kontribusi sektor kelautan dan perikanan baru sekitar 10 persen dari total anggaran belanja negara.  Menurut dia, potensi ekonomi sektor kelautan dan perikanan di Indonesia sebenarnya sangat besar tidak hanya berasal dari hasil tangkapan ikan namun juga sumber daya mineral ataupun kekayaan alam lainnya di laut.

Namun, tambahnya, karena minimnya perhatian pemerintah terhadap sektor ini maka potensi yang besar itu banyak yang hilang dan tidak bisa dimanfaatkan oleh negara maupun masyarakat Indonesia.

Dia mencontohkan, setiap tahun Indonesia kehilangan hasil senilai Rp 30-RP 40 triliun akibat penangkapan ikan secara ilegal baik dilakukan oleh nelayan asing maupun dari dalam negeri. “Indonesia merupakan negara bahari dengan luas lautan mencapai dua per tiga luas tanah air, seharusnya sektor kelautan dan perikanan mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah,” katanya.

Yusuf mengungkapkan, pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan sidang Paripurna DPR pada 15 Agustus 2008 lalu memperlihatkan  rendahnya  perhatian pemerintah pada sektor kelautan dan perikanan.

Dalam pidato pengantar nota keuangan dan RAPBN 2009 itu, menurut dia, sama sekali tidak menyinggung pembangunan sektor kelautan dan perikanan ataupun kehidupan nelayan sementara sektor lain seperti pertanian, kesehatan dan pendidikan mendapat perhatian yang tinggi. “Bahkan anggaran pembangunan untuk sektor kelautan dan perikanan juga sangat kecil dibanding sektor pertanian. Ini diskriminasi,” kata Purnawirawan angkatan laut ini.

Sementara itu Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi dalam pidatonya di hadapan 334 wisudawan mengatakan, saat ini produk perikanan menjadi salah satu andalan bagi devisa negara.

Menurut dia, pertumbuhan ekspor produk perikanan Indonesia selama lima tahun terakhir (2003-2007) mengalami kenaikan rata-rata 8,23 persen. Posisi nilai ekspor produk perikanan Indonesia di pasar dunia pada tahun 2006 menduduki peringkat 10 dengan pasar utama Amerika, Jepang dan Eropa.

Berdasarkan catatan Departemen kelautan dan perikanan (DKP) selama tiga tahun terakhir volume ekspor produk perikanan Indonesia yakni 857.992 ton dengan nilai 1,91 miliar dollar AS pada 2005. Kemudian naik menjadi 926.478 ton pada 2006 senilai 2,10 miliar dollar AS dan pada 2007 mencapai 2,30 miliar dollar AS meskipun dari volume turun menjadi 837.783 ton.


Sur berkomentar: Itu baru dari 2 sektor saja Kelautan dan Perikanan. Belum dari Pertanian dan Perkebunan; dari Perhutanan; dari Pertambangan dan lain-lain.

Siang ini Sur mendengar bahwa Jepang di tahun 1934 masih menjadi Developing Country dan mereka sadar tidak banyak memiliki Natural Resources sehingga mereka dengan serius mengembangkan Intellectual Property Right. Saat ini mereka menerima 400.000 aplikasi per tahunnya.

Para Sensei (guru) sering mengatakan bahwa Indonesia itu sedang wancinya (waktunya) untuk bangkit! Karena dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa itu tinggal diolah dengan serius, misal mengambil teknologi yang tepat dan sesuai dengan kondisi Indonesia langsung para investor bisa tanam modal melakukan licensing dan bagi royalti kepada penemunya. Atau orang-orang kreatif Indonesia menemukan patent, design, hak cipta sendiri, maka era industri di Indonesia bisa dimulai dan Indonesia akan menjadi negara modern (meninggalkan mode developing country).

Syarat utama adalah: menegakkan hukum, memberantas korupsi secara serius dan tuntas (cabut rumput sampai ke akar-akarnya), dan meningkatkan keahlian sumber daya manusianya untuk mengelola/ memanfaatkan Intellectual Property Right.

Bayangkan dalam obrol-obrol dengan teman dari Malaysia, mereka tahun lalu bisa meraup sampai 44.5 Billion Ringgit di tahun 2007. Bayangkan ukuran negara Indonesia dan jumlah penduduk Malaysia di tahun 2008 hanya mencapai 27.5 juta orang saja. Bayangkan jumlah provinsi di Indonesia, bila masing-masing bisa menawarkan keunikan budaya, makanan, souvenir, dll.

Oleh karena itu kita memerlukan Peta Konsep untuk menyatukan visi dan misi di tingkat Pemerintahan dimulai dari Presiden, Mentri, Gubernur sampai turun ke kepala daerah bila perlu. Agar gerak langkah kita bisa seirama dan sinergis! Mari kita mainkan Orkestra Indonesia Bangkit!


Responses

  1. Informasi lebih lanjut ke http://www.hnsi-temunelayan.org/


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: