Posted by: pkab | 31 July 2008

KMDM = Kecil Menanam Dewasa Memanen


“KECIL MENANAM DEWASA MEMANEN” DAN PERAN GURU MEMOTIVASI SISWA SEJAK DINI DI TK DAN SD

Oleh: Mudjito.Ak. M.Si
Direktur Pembinaan TK dan SD

PENDAHULUAN

Menghadapi tantangan abad ke 21 ini pendidikan mesti mampu mengubah paradigmanya dari yang fragmented menjadi pendekatan ekologis yang menempatkan pendidikan dalam sebuah konteks lingkungan yang saling terkait (ecological approach). Terjadinya berbagai bencana kerusakan di lingkungan semesta diakibatkan ulah-ulah tangan, pikir, dan hati manusia telah menyadarkan kita bahwa pendidikan mesti mampu mewujudkan keseimbangan antara kehidupan manusia di alam semesta ini.
Memberikan kesadaran kepada para siswa akan kehidupan di abad ke 21 yang diwarnai oleh kehidupan masyarakat yang sangat heterogen dan permasalahan yang luar biasa terkait dengan pemanasan global, lingkungan hidup yang semakin tercemar, konflik, peperangan, dan kemiskinan merupakan sebuah kemestian. Salah satu upaya menyikapi secara menyeluruh berbagai aspek kehidupan sosial, lingkungan hidup dan ekonomi maka lahirlah gagasan Pendidikan untuk Pembangunan yang Berkelanjutan (Education for Suistanable Development) yang mengaktualisasikan potensi peserta didik agar mampu memecahkan problema kehidupan terkait dengan isu-isu lingkungan, kemitraan, respek, dan pemahaman global yang berfokus pada tiga pilar yakni masyarakat, lingkungan, dan ekonomi. Sejalan dengan itu muncul lagi isu MDGs yang secara bersama-sama menanggulangi masalah yang dihadapi sebagian besar negara berkembang terkait dengan kekurangan pendidikan dan kemiskinan, buta huruf, dan degradasi lingkungan.
Pendidikan ternyata telah menjadi tumpuan “harapan” setidaknya memberi kontribusi yang besar terhadap kesadaran ekologis, sebagai jalan keluar dari berbagai masalah kemanusiaan yang terjadi saat ini….

“KMDM DAN PERAN PENDIDIKAN”

Menurut Hyland (1994) kurikulum yang dibutuhkan untuk kehidupan di abad 21 adalah kurikulum yang mengakomodir nilai-nilai yang ada dan dianut masyarakatnya. Seperti berpikiran terbuka, dapat melihat jauh ke depan (futuris), demokratis, dan menyediakan kesempatan kehidupan di berbagai bidang. Tentu saja, kondisi di atas telah diadopsi ke dalam dokumen resmi yang bernama Kurikulum yang telah disosialisasikan pada tahun 2006 lalu. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) demikian namanya, telah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengelola proses pembelajaran sesuai dengan kondisi wilayah mereka masing-masing yang mengacu pada upaya mendidik para siswa menjadi manusia seutuhnya (holistik). Hal ini tentu saja memberi peluang akan pemahaman isu lingkungan secara kontekstual.
Menjadikan murid-murid yang cerdas spritual, cerdas akademik, cerdas fisik, cerdas emosi, cerdas sosial, dan kreatif merupakan tujuan yang hendak diraih tujuan pendidikan nasional kita. ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 Bab II pasal 3).
Kecil Menanam Dewasa Memanen merupakan program pendidikan terkait dengan pendidikan nilai (virtues) yang mesti dapat diaplikasikan melalui sistem persekolahan kita. Peran pendidikan, sejatinya adalah mampu memperbaiki berbagai masalah yang ada di masyarakat. Masalah lingkungan dan konservasi merupakan masalah luar biasa oleh karena terkait dengan pendidikan individu yang butuh dipraktikkan. Kita mesti mencari jawaban dari perpaduan antara “PENDEKATAN SISTEM DAN PENDEKATAN INDIVIDU”, yaitu bagaimana KMDM sebagai pendekatan sistem yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan konservasi dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan moral individu di sekolah. Jangan jadikan program KMDM sebagai program tempelan yang terkadang tak kuat menahan fenomena sosial yang mendorong dahsyat bagaikan air bah.

PERAN GURU

Belajar dari pendidikan di Jepang yang mengajak semua murid mulai TK dan SD mampu bersikap dan berperilaku ramah terhadap lingkungan sangat terkait erat dengan “local genius” yang mereka genggam dalam tradisi sehari-hari. Sejak duduk di TK, kaki para belia mereka telah dicelupkan ke dalam sepetak sawah yang terdapat di lingkungan sekitarnya. Tangan-tangan kecil mereka diajak menabur aneka biji-bijian dari dapur ibu mereka. Aneka biji, aneka umbi telah mereka tabur semenjak dini. Kaki-kaki kecil mereka juga berebut berlari di pinggir sungai menabur benih-benih ikan.
”Mori wa umi no koibito” hutan adalah kekasihnya laut. Itulah novel non-fiksi yang menjadi bacaan wajib bagi murid SD. Mereka diajak berpikir bukan hanya sebatas “cortex memory” berupa hapalan-hapalan, namun lebih ke arah “metakognitif” untuk dapat menangkap hakikat makna dari kegiatan-kegiatan yang telah mereka lakukan semenjak dini. Artinya sejauh mana kurikulum mampu memberi dampak kebajikan pada diri anak dan lingkungannya (beyond curriculum) itulah rupa tonggak keberhasilan pendidikan itu sendiri.
Bronfenbrenner mengatakan bahwa perkembangan anak amat dipengaruhi oleh konteks mikrosistem (keluarga, sekolah dan teman sebaya), konteks mesosistem (hubungan keluarga dan sekolah, sekolah dengan sebaya, dan sebaya dengan individu), konteks ekosistem (latar sosial orang tua dan kebijakan pemerintah), dan konteks makrosistem (pengaruh lingkungan budaya, norma, agama, dan lingkungan sosial di mana anak dibesarkan. Artinya kegiatan KMDM ini mesti dilakukan secara holistik. Mampukah kita mendidik dalam konteks mikrosistem, mesosistem, dan ekosistem? Tentu saja diawali dengan mendidik anak-anak sebagai individu yang saat ini berada di TK dan SD. Bukankah 10 tahun kemudian mereka akan menjadi bagian dari masyarakatnya, dan bangsa? Di sinilah peran guru yang mampu menghadirkan berbagai tema terkait dengan kesadaran lingkungan hidup.

KONSEP KMDM MESTI TERINTEGRASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Istilah “Integrasi” digunakan untuk menegaskan tiga aspek yang sangat penting dalam proses pembelajaran, yakni BERFIKIR- MERASA-DAN BERBUAT, yang selama ini dikenal tiga ranah Taxonomy Bloom (kognitif, afektif, dan psikomotor). Berfikir artinya apa yang kita pelajari, Merasa artinya apresiasi terhadap apa yang dipelajari, sementara Berbuat adalah pengalaman berbuat dan tidak hanya cukup melalui diskusi tentang apa masalah yang dipelajari.
Mengintegrasikan nilai-nilai KMDM dalam pembelajaran merupakan sebuah proses pergelutan anak dengan semesta alam. Di mana anak akan tercelup untuk melakukan praktik-praktik nyata dengan lingkungannya. Konsep pendidikan berwawasan lingkungan telah diaplikasikan dalam pendidikan jauh sebelum Indonesia merdeka. Kearifan lokal yang dianut berbagai suku/etnis yang ada di Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan dalam membangun pendidikan di masa lalu. Sebutlah filosofi “Alam terkembang jadi guru” yang dianut masyarakat Minangkabau atau sistem pengairan “Subak” di Bali, atau Suku Baduy yang bertahan dengan tradisi uniknya dalam menjaga kelestarian alam, menyadarkan kita bahwa kecerdasan lokal sungguh amat kuat sebagai jembatan pembelajaran bagi kita ke depan.

SEKOLAH HIJAU (green house)

Sekolah hijau merupakan sekolah berwawasan lingkungan di mana para murid, tenaga kependidikan dan komite sekolah memiliki kesadaran akan lingkungan di mana mereka berdiam, serta mewujudkannya melalui perilaku yang ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu hidup. Sekolah memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program untuk menginternalisasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aktifitas sekolah.
Konsep dan kegiatan yang dikembangkan bertumpu pada nilai-nilai luhur kehidupan seperti kemanusiaan, kesetiakawanan, kejujuran, keadilan, dan kesimbangan alam. Prinsip dasar sekolah hijau adalah Partisipatif, Berkelanjutan, dan Menyeluruh.

  • Partisipatif. Semua warga sekolah berhak memperoleh informasi yang memadai dan terlibat dalam keseluruhan proses sesuai tanggung jawab dan perannya.
  • Berkelanjutan. Seluruh kegiatan memiliki manfaat dalam jangka panjang.
  • Menyeluruh. Seluruh warga sekolah selalu mempertimbangkan seluas-luasnya aspek kehidupan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi sehingga dapat memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya bagi lingkungan.

Jenjang TK dan SD memiliki program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang dapat menjadi ”perekat” dengan kesadaran lingkungan hidup. Memanfaatkan halaman dan kebun sekolah untuk menanam berbagai tanaman obat, buah-buahan, tananam langka, dan aneka tanaman palawija. Semua kegiatan KMDM dapat dikaitkan dengan proses pembejaran yang ada dalam kurikulum, misalnya dalam mata pelajaran Agama dapat dikaitkan dengan ayat-ayat yang bertemakan kerusakan alam dan lingkungan. Bahasa Indonesia dapat menggunakan tema lingkungan alam untuk menggairahkan aspek membaca, berdiskusi, menulis, dan apresiasi sastra. Matematika dapat dipraktikkan langsung dengan menerapkan kondisi nyata terkait dengan kesadaran akan lingkungan (bunga, biji, kerang, dsbnya). Sains dapat dikaitkan dengan konsep oksigen dan karbon dioksida, fotosintesis, dan sebagainya. IPS dapat dikaitkan dengan tema kerusakan dan konservasi melalui kegiatan menanam sejuta pohon, dan sebagainya. Yang paling penting, berbagai upaya di atas harus dimunculkan dari dalam diri siswa melalui sentuhan-sentuhan cerita dan dongeng yang menumbuhkan kesadaran intrinsik.
Berbagai model pembelajaran dengan tema kesadaran lingkungan dapat dirancang dalam proses pembelajaran sejak TK SD hingga jenjang berikutnya. Hal itu dapat dilakukan melalui ”mindmapping” yang menuju ke arah pembelajaran keterpaduan secara holistik. Setiap daerah dapat mengembangkannya sendiri sesuai dengan kearifan lokal yang dianut yang dapat dikaitkan dengan ”verbal art” agar menarik hati anak. Kisah-kisah dan dongeng setempat yang menjaga lingkungan dengan pesan moral berfokus pada penyelamatan lingkungan hidup dapat disampaikan kepada murid.

Kunci Kebajikan (virtues):
Cinta Tuhan dan CiptaanNya, Amanah, Disiplin, Hemat, Kepedulian, Persatuan, Percaya diri, Tanggungjawab, Kejujuran, Kerjasama, Kasih sayang, dan kreativitas.

KESIMPULAN

KMDM BUKANLAH Subjek Namun Bagian dari Setiap Subjek.
KMDM merupakan bagian yang mengisi kehidupan akademik dan kehidupan sosial setiap anak. KMDM dapat ditampilkan dalam tindakan/aksi nyata seperti ”SEKOLAH HIJAU” yang melibatkan rasa tanggungjawab, respek, dan kerjasama.

KMDM adalah Pendidikan Untuk Berbuat !
KMDM dapat saja berlangsung dalam forum-forum diskusi dan simulasi. Namun kita mesti ingat apa tujuan pendidikan nasional kita……
“— untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Lingkungan Sekolah Yang Positif akan Membangun Program KMDM.
Sekali lagi bahwa guru yang dibutuhkan adalah guru yang menyadari perannya sebagai tauladan dan pemimpin bagi murid-muridnya. Artinya guru yang dibutuhkan adalah guru-guru yang cinta pada lingkungan. Suka mengajak muridnya berkebun sambil belajar matematika, berbahasa, dan sains. Mengajak muridnya ke kebun sekolah, merawat, dan mengamatinya sebagai bagian dari sumber inspirasi belajar. Guru itulah yang akan mampu menciptakan suasana dan kondisi yang positif dalam mendidik.
KMDM Mesti Didukung Kebijakan Sekolah dan Praktik-Praktik Nyata.
Administrasi sekolah memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan lingkungan sekolah. Jika guru sebagai model yang diharapkan dapat menumbuhkan karakter pada diri muridnya, maka kebijakan sekolah akan menguatkan komunitas sekolah sebagai miniature social bermasyarakat. Jika sekolah berhasil membangun komunitas sekolah yang berkarakter, maka ini menjadi “benchmarks” yang dapat menjadi indikator mengevaluasi kemajuan wilayah.

Memberdayakan Guru Untuk Mempromosikan KMDM.
Guru sebagai si pembuat keputusan dapat bermitra dengan orang tua dan komunitas masyarakat di sekitarnya. Inilah bagian dari fungsi guru yang otonomi dan bijaksana. Untuk itu pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai kebajikan dari program KMDM akan terbangun baik dalam diri anak secara internal semenjak dini.

Peran Serta Masyarakat Merupakan Mitra Penting Mengembangkan KMDM ke depan.
Indonesia sebagai bangsa yang beragam, terdiri dari berbagai latar sosial, suku, bangsa, budaya dan agama tentunya membutuhkan satu pendekatan yang komprehensif untuk dapat menyumbang suksesnya program KMDM. Menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan dan konservasi sesuai dengan kaidah budaya bangsa Indonesia merupakan titik tumpu kita bekerja. Membangun moral kolektif dalam dunia pendidikan agar para murid kita mencintai bumi tempat mereka berpijak merupakan sebuah perjuangan utama agar dapat mempertahankan eksistensi kehidupan berbangsa yang beradab ke depan. Kesuksesan sekolah dalam membangun individu murid-muridnya merupakan modal sosial bangsa dalam membangun peradaban. Pendidikan KMDM terintegrasi bukanlah pendidikan tipu muslihat yang mudah seperti melalui hafalan-hafalan yang diuji melalui kertas. Ia membutuhkan proses yang berkesinambungan, tanpa henti. Ia membutuhkan arena untuk senantiasa dapat dipraktikkan, yaitu masyarakat. Untuk itu peran serta masyarakat turut membantu dalam mendampingi sekolah membangun karakter murid-muridnya. Inilah yang akan membangun kualitas sumber daya manusia sebagai produk dari sekolah dan masyarakatnya.

”Hi wa manako, Kokuu wa kokoro, Kaze wa iki, Umi yama kakete, Wagami narikeri”.
Matahari adalah mata penglihatan kita, langit biru adalah hati kita, angin adalah nafas kehidupan kita, laut dan gunung yang terbentang adalah tubuh kita, sungguh sebuah inspirasi yang luar biasa tentang kesemestaan dengan nilai-nilai spiritual yang tinggi dalam pendidikan mereka.

Sumber: My Dream Universe


Responses

  1. jalan jalan dihari siang
    ada anak lari berpacu
    bumi ini bukan warisan nenek moyang
    tapi titipan dari anak cucu

    ada anak lari berpacu
    bermain dengan temannya
    karena bumi ini titipan dari anak cucu
    kewajiban kita untuk memeliharanya

    hijau bumiku, segar udaraku, nyaman perasaanku.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: