Posted by: pkab | 1 July 2008

Pengalaman Menuju Setu Babakan


Petunjuk menuju Setu Babakan

Hari Minggu siang kemarin bersama rekan-rekan ingin melihat Setu Babakan, kami naik 2 mobil dari Gading Serpong. Satu mobil (Supir Sudin) ternyata isi bensin dulu di Pom dekat SGU. Kemudian mobil Sudin harus keluar tol untuk menjemput Wanti (yang tahu lokasi) di Mal Cilandak. Sedangkan mobil saya langsung dan janjian ketemu di pintu masuk Kebun Binatang Ragunan. Awalnya saya pikir ya, udah di pintu utama saja. Ketika keluar tol yang dekat Ragunan, mulai kebingungan di dekat lampu merah, karena melihat peta ternyata ada 3 pintu (utama, barat dan timur). Harus ada perjanjian (konsensus) mau pilih pintu yang mana. Karena saya belum tahu lokasi, maka saya tidak bisa menentukan sebaiknya pintu timur.

Kontak melalui HP ke Wanti, ia menyarankan untuk bertemu di pintu yang dekat Kampung Kandang, lewat Cilandak KKO. Jadi rencana semula mau ke pintu utama (belok kanan di lampu merah) diubah menjadi U-turn menuju Cilandak KKO. Tapi… kelewatan dan bertemu dengan jalan yang ada RS Fatmawati. Rembugan dengan teman semobil, daripada mutar di jalan besar lagi untuk mengulangi menuju Cilandak KKO, kami putuskan untuk meneruskan perjalanan dan makin kesasar setelah ketemu UPN Veteran, jalan menjadi pertigaan. Masuk jalan-jalan kecil untuk mencari jalan Margasatwa. Dekat terminal tidak boleh boleh kiri, jadi memutar lagi, jalanan makin sempit.

Akhirnya ketemu juga Jalan Margasatwa yang menuju pintu barat, yang ternyata padat pengunjung, sehingga kami putuskan untuk jalan lagi meneruskan daripada menunggu mobil satunya yang ternyata kejebak macet dan masih belum menjemput Wanti yang masih di Mal Cilandak. Melalui HP Wanti mengatakan: “Ya sudah jalan saja, menuju Ciganjur. Cari mobil mikrolet M20 warna biru muda, ikuti saja, nanti sampai ke Setu Babakan.”

Melihat papan penunjuk arah jalan kami kebingungan, ada yang bilang Setu Babakan dan Ciganjur kok jadi split (kiri dan kanan), tadinya dipikir wah satu arah. Nanya sama satpam yang marah karena kami berhenti di pintu gerbang rumah yang besar terlalu lama, karena melihat peta dan penentuan mau ambil kiri atau kanan. Dijawab oleh Satpam dengan nada marah: “Sudah ambil kiri-kiri-kiri-kiri terus saja, nanti juga sampai.” Tapi ternyata tidaklah mudah, karena jalanan ketemu pertigaan dan perempatan yang ternyata keputusannya tidak haruslah mengambil kiri terus, bisa jadi perkiraan kami satpam itu hanya ingin mobil kami segera pindah dari pintu gerbangnya.

Dalam perjalanan beberapa kali berhenti menanyakan arah. Bertemu dengan seorang kakek, agak pikun ternyata, yang memberitahukan arah ke kiri, tetapi gerakan tangannya melambai ke arah kanan. Kami semobil ketawa-ketawi: “Hayo percaya yang mana: perkataannya atau gerakan tangannya?” Bayangkan kalau di kelas seorang guru menjelaskan bahan pelajaran, antara apa yang diucapkan dan yang diperagakan lain. Murid tambah bingung karena tujuan akhir dari pelajaran itu belum jelas.

Sepanjang perjalanan menuju Setu Babakan, kami tidak menemukan Mikrolet M20 itu, yang tadinya menjadi harapan menjadi petunjuk jalan. Petunjuk dari HP Wanti berikutnya adalah menuju ISTN dan menanyakan orang yang kami temui tidak mengetahui tempat itu. Setelah menyusuri Jalan Kafhi 2 yang bersebelahan dengan sungai kecil, Wanti bilang: “Nah itu sudah dekat…”

Pintu Gerbang Setu Babakan

Akhirnya kami melihat gerbang Setu Babakan, lega rasanya. Check and recheck dengan peta dan melihat brosur dari kantor pengelola Setu Babakan, ternyata ada jalan yang lebih mudah mencapainya.

Permasalah yang terjadi adalah: Wanti memiliki pengetahuan cara mencapainya dengan Kendaraan Umum M20 yang dari arah Kampung Kandang dan menuntun kami sendiri yang juga belum tahu lokasi yang sesungguhnya (oh ya, di peta lama yang saya miliki nama Kampung Kandang dan Setu Babakan itu tidak ada). Kami membayangkan mengikuti petunjuk Wanti seolah-olah kami sedang belajar melalui sistem e-Learning (tanpa tatap muka), bukan secara pembelajaran traditional bahwa Wanti semobil (guru masih satu kelas dengan murid-muridnya) dengan kami.

Peta Konsep dapat membantu untuk memberikan petunjuk: ini tujuan akhir, ini lokasi-lokasi utama yang harus dicapai (Pintu barat Ragunan, ISTN) sebagai dahan besar, ini detil-detilnya sebagai ranting-ranting kecilnya. Sehingga seorang siswa “nyasar” ia bisa merefer kembali dia ada di mana, dan apa yang harus ia lakukan tindakan koreksi.

Jadi kalau anda sebagai guru atau pengajar, usahakanlah membuat peta konsep dari mata pelajaran yang anda asuh. Caranya sebagai berikut:

  • Nama Pelajaran bisa dijadikan centrum (topik utama, yang berada di tengah).
  • Dahan-dahan besar adalah topik yang ingin dipelajari atau kompetensi dasar yang akan dicapai
  • Ranting-ranting kecil adalah sub-topik dari salah satu kompetensi dasar
  • Daun atau subranting adalah lebih detil lagi dari salah satu sub-topik
  • Tarik garis antar ranting (atau antara ranting ke daun) bila memang saling berhubungan dan berikan label apa hubungannya
  • Berikan gambar/ icon sebagai asosiasi (misal gambar termometer -> berhubungan dengan suhu/ temperatur)
  • Gunakan lebih dari 4 spidol atau pinsil warna
  • Sampaikan kepada siswa pada pertemuan pertama sehingga siswa memperoleh gambaran besar (big picture) dan perencanaan mingguan/ bulanan anda, juga merefer kembali dalam perjalanan waktu.

Semoga pemanfaatan Peta Konsep dapat membantu guru dan siswa dalam mempelajari bahkan menguasai pelajaran. Check di bagian Kategori Pembelajaran Fisika misalnya untuk melihat contoh-contoh peta konsep yang berhubungan dengan mata pelajaran Fisika.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: