Posted by: pkab | 15 April 2008

Laporan Pandangan Mata Kopi Darat Milis DikBud 12.04.08


Acara dimulai tepat jam 10.00. Salut buat pak Richard yang super sibuk mau mengkoordinasikan pertemuan darat semacam ini. Acara dimulai dengan perkenalan masing-masing peserta kopi darat, sehingga masing-masing bisa mengetahui siapa melakukan apa, dan bisa melakukan pendekatan lebih lanjut untuk topic/ interest yang sama, seperti: education for special needs: ada yang melakukan trainingnya, ada yang memiliki tempatnya, ada ahlinya, dsb.

Seharusnya acara perkenalan itu singkat, tetapi karena masing2 tidak diberikan jatah bicara yang pendek, sehingga perkenalannya jadi “agak bertele-tele”. Salut pada peserta yang hadir, semuanya pemerhati pendidikan dan perhatian (concern) untuk kemajuan dunia pendidikan Indonesia yang “acak adul” menurut salah satu atau dua peserta kopdar.

Waktu untuk membahas DNA menjadi sangat-sangat singkat. Idenya sangat briliyan. Tapi sayangnya Pak Richard sibuk, sehingga tidak dapat terlibat secara langsung maupun secara tidak langsung. Mustinya ada pemimpin yang jelas, sehingga orang lain (investor) yang tertarik untuk berhubungan lebih lanjut bisa menghubungi orang itu dan berkompeten untuk memutuskan suatu keputusan penting. Terus juga perlu di setup sebuah account dengan menggunakan 2 nama orang, sehingga meminimalkan penyalahgunaan dana yang terkumpul. Bicara tentang pengumpulan dana atas nama pribadi, orang agak enggan, tetapi bila sudah pakai nama Yayasan DNA, mungkin bisa lebih dipertanggungjawabkan. Jadi mau tidak mau harus dari awal ada pengurus yang jelas. Kadang orang melihat suatu kegiatan itu dilihat dari Who the man behind the gun (the right man in the right place). Jadi ide dari Pak Richard: silahkan peserta kopdar untuk berkelompok dan membentuk badan kerja dan berharap system DNA berjalan <– kelihatannya seperti tubuh yang tanpa otak (yang memerintahkan harus ke arah mana supaya semua anggota tubuh bisa sinergis berjalan mencapai tujuan.

Pak Oei datang terlambat beberapa menit karena berputar-putar mencari gedung Indo Pos. Ia sharing sebagai pemain di dunia industri, terutama logam. Ia menilai terlalu banyak FDI (Foreign Direct Investment) yang salah diatur/ dilayani oleh pemerintah. Perlu dibedakan 3 bagian:

a. mana yang sumber daya alamnya dari Indonesia. Pemerintah seharusnya bisa dan berani mengatur banyak agar porsi untuk rakyat lebih banyak.

b. mana yang pasarnya 90% adalah dalam negri. Ini juga harus diatur baik oleh pemerintah.

c. mana yang pasarnya 90% adalah export. Ini yang seharusnya Pemerintah serve well.

Tetapi yang terjadi “kewalik silite (sorry to say)”/ terbalik semuanya. Freeport, Tambang Batubara, dll, di jor seenak wudelnya. Rakyat papua, borneo yang menderita akibat “perampokan” sda itu oleh pihak asing.

Yang type ketiga (c) malah dipersulit ini-itu, banyak investor yang akhirnya hengkang dari Indonesia, karena ketidakjelasan hokum, pajak yang beraneka ragam, belum demo buruh, dll.

Permasalahan berikutnya adalah: banyak sekolah yang mendidik dan menghasilkan “Mandarin” dibanding menjadi “Samurai”. Sertifikasi SMK dikelola oleh Pemerintah tidak menggigit. Mustinya urusan pelatihan ini dilakukan oleh Kalangan Industri. Sehingga bisa lebih terap guna, dan lulusan2nya bisa langsung diserap oleh industry.

Industri kecil sebaiknya berkumpul dan berasosiasi agar bisa memiliki kekuatan hokum untuk mengajukan persyaratan bagi para FDI itu kalau mau mendapatkan izin dari pemerintah harus ada para ahlinya. Para ahlinya dari hasil training oleh kalangan industry itu sendiri atau dari kalangan asosiasi industry kecil itu. Sehingga simbiosisnya bisa berjalan. Para lulusan SMP/ SMA/ SMK bisa ikut pelatihan, jadi tenaga ahli. Ditraining oleh pemain FDI besar. Dan Kalangan industry kecil juga terbantu karena adanya tenaga2 ahli itu.

Banyak keluhan yang terjadi: si pemberi kerja kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang dibutuhkan. Sedangkan banyak juga pengangguran hasil didikan di Indonesia yang mencari pekerjaan. Terjadi Mismatch! Itu inti dari pemaparan dari Pak Oei.

Sempat disinggung untuk mensetup badan sertifikasi keahlian di bidang tertentu. Sehingga pemilik sertifikat itu bisa langsung bekerja karena sertifikasinya dari pihak industri dan tidak main-mainan. Perlu diskusi lebih lanjut agar ide ini bisa terwujud.

Pertemuan semacam ini perlu sering diadakan, agar bisa dihasilkan action plan walau kecil tapi berarti. Daripada hanya jalan ditempat, banyak bicara di milis suka jadi tidak nyambung karena terlalu banyak traffic (sliweran topic ini adalah balasan dari itu, balasan dari sebelumnya, sehingga seperti diskusi di pasar. Banyak ide bagus akhirnya jadi sebatas wacana).

Pak Richard meminta dukungan doa dari para peserta kopdar agar ia bisa segera mendapatkan anak. Banyak istirahat baik pikiran dan fisik, karena kesibukan yang tinggi membuat tubuh dan pikiran lelah. Di sela-sela diskusi, pak Richard memberikan masukan tentang bagaimana kehidupan di Jepang yang super keras. Hari ini, Suryadi membaca Kompas setahun ada 30.000 kasus bunuh diri di Jepang. Trend terakhir mencampur cairan pembersih dengan garam tertentu, menghasilkan uap racun. Maka seperti pesan Pak Richard: kita harus bekerja dan berdoa untuk mencapai tujuan mulia agar DNA bisa terlaksana.

Acara ditutup sekitar jam 13.30 dengan foto bersama. Sebenarnya banyak pertanyaan dari peserta tapi karena terbatasnya waktu, sehingga terpaksa pertemuan ditutup.


Suryadi pakai batik coklat berdiri dibelakangnya Pak Richard S (jas hitam) dan Pak Oei (Batik).


Suryadi sempat menawarkan kepada Pak Oei untuk mengadakan temu darat lagi dengan para anggota asosiasi industri logam agar membuatkan peta konsep action plan untuk pelatihan para pemuda putus sekolah bisa memiliki keahlian di bidang logam. Ide di kepala saya: para asosiasi patungan mensetup suatu tempat balai pelatihan dengan peralatannya. Para pemuda itu diundang dan diberikan pelatihan. Setelah lulus dari situ pemuda-pemuda itu ditempatkan pada industri logam yang membutuhkan tenaga kerja terlatih. Saat pelatihan dimintakan untuk membuatkan peralatan pertanian (atau apa yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat), sehingga hasilnya bisa dijual untuk menutup biaya pelatih dan bahan.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: