Posted by: pkab | 7 April 2008

Outline: Perlukah?


Oleh: Bambang Trim

Kalau ada penulis buku yang menulis tanpa menggunakan outline, kemungkinan besar dia adalah penulis nonfiksi. Berkali-kali saya cerita bahwa Tom Clancy mengatakan ia menulis novel seperti Anda membacanya. Artinya, Tom Clancy sebenarnya tidak pernah tahu bagaimana alur novelnya hingga selesai. Nah, memang kebanyakan penulis fiksi (novel, cerpen) tidak pernah membangun kerangka (outline) nyata ketika menulis, yaitu yang tersurat. Umumnya, kerangka atau alur penulisan fiksi secara abstrak sudah tersetting di benak.

Sebenarnya, perlukah kita membuat outline sebelum menulis buku? Kalau yang dimaksud buku nonfiksi, seperti buku resep, buku kiat, buku teks, buku panduan, ataupun buku referensi, tampaknya outline memang perlu untuk memudahkan pemetaan pikiran.

Nah, outline itu ibarat gambaran daftar isi buku yang kita mulai dari
• judul bab
• subjudul
• sub-sub judul

Demi menciptakan diferensiasi dan keunggulan buku maka isi buku pun dilengkapi dengan
• pengayaan (enrichment)
• visualisasi
• quotation

Pengayaan lagi tren dalam penulisan buku nonfiksi, terutama buku-buku how to dan self-improvement. Misalnya, pengayaan ditampilkan dalam boks-boks yang berisi materi khusus dan materi-materi ringan. Penulis yang mampu menggunakan pengayaan ini adalah penulis yang banyak membaca dan menggunakan referensi paling tidak lebih dari 10 buku atau juga yang berasal dari internet.

Visualisasi juga membuat buku semakin berisi dan menarik. Beberapa penulis yang menciptakan ide-ide baru kerap membuat visualisasi peta konsep, misalnya peta konsep cashflow quadrant oleh Robert Kiyosaki, peta konsep PDB oleh Hermawan Kartajaya, atau peta konsep ESQ oleh Ary Ginanjar.

Quotation adalah kutipan ungkapan, ayat suci, atau kata-kata bijak yang banyak terdapat pada buku-buku self-improvement. Terkadang quotation ditampilkan besar-besar atau dengan huruf-huruf dinamis yang mengikat perhatian. Dengan quotation juga naskah buku menjadi lebih kaya dan sarat perenungan.

Dari bahan-bahan tersebut maka Anda bisa meramu sebuah outline yang punya daya pikat. Jika outline sudah tersusun, Anda pun bebas menulis dari mana saja. Misalnya, mau menulis atau lagi mood menulis bab 3 atau bab 7, ya silakan. Outline juga nanti bisa membuat kita berpikir soal struktur tulisan. Misalnya, bab 6 seharusnya jadi bab 5 sesuai dengan urutan, sah-sah saja kita ubah sebelum dikirim ke Penerbit. Apakah penerbit bisa mengubah outline? Mungkin saja.

Perubahan outline dalam konteks editing naskah termasuk perubahan besar atau sering disebut editing berat. Perubahan ini bisa dalam bentuk perubahan struktur atau urutan bab dan subbab, bisa juga bentuknya berupa penghilangan atau pemampatan bab. Semua itu bergantung kacamata editor yang juga akan beradu argumen dengan Anda sebagai penulis.

Begitulah…. outline penting untuk naskah nonfiksi, tetapi tidak untuk naskah fiksi. Jika Anda mengajar anak menulis, umumnya kecenderungan mereka adalah fiksi. Karena itu, jangan paksa mereka membuat kerangka terlebih dahulu. Itulah pengalaman menulis waktu SD dulu. Menulis kerangka terkadang lebih lama daripada menulis cerita.

Sumber: Bambang Trim


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: