Posted by: pkab | 19 March 2008

Saya kerja lebih keras kok dibayar lebih sedikit? (Bag 2)


Oleh: Aziz Tanjung

Bagian 1

sepia penghasilan
Peta Konsep SEPIA

“Tapi si Boss nggak pernah kerja kok dapetnya paling tinggi?”

Begitu tanya Adi ke Budi tentang kegiatan Mr. Cedi, boss mereka. Setelah paham arti kerja efektif, efisien, dan produktif, kini Adi berguru kepada Budi agar bisa menikmati hidup yang lebih hidup. “Ya, beda lah. Boss kan kerjanya lobbying. Ketawa-ketiwi maen golf, tapi begitu deal, dapetnya gede. Kalau boss nggak dapet deal, kita juga nggak ada kerjaan,” jelas Budi.

“Kerjaan Boss itu punya nilai ekonomis tinggi. Mungkin 10 kali lipat nilai ekonomis kerjaan kita. Makanya walau kerja sedikit, bayarannya gede.”

Nilai produk

Setiap hasil produksi mempunyai suatu nilai. Nilai tersebut ada 2 macam : nilai ekonomis dan nilai spiritual. Nilai ekonomis (economic value) diukur dari seberapa tinggi orang lain mau membeli produk itu, atau dalam bahasa lain seberapa besar kontribusi profit ke perusahaan. Dengan ukuran nilai ekonomis inilah gaji kita ditentukan. Tentu saja penilaiannya sangat subyektif tergantung perusahaan.

Sedangkan nilai spiritual adalah nilai yang penting bagi spirit/batin kita. Banyak kegiatan yang bernilai spiritual, kita melakukannya tanpa tujuan dibayar uang. Cinta, senang, kasih, damai, dan perasaan sejenisnya merupakan nilai spiritual dari suatu kegiatan produksi. Tentu saja yang ini tidak ada kaitannya dengan besar gaji kita.

“Contoh nyatanya, kamu kan suka ngisi blog kan Di? Kamu senang melakukannya padahal tidak ada yang mau bayar tulisan kamu. Itu namanya produksi dengan nilai spiritual tinggi, namun nilai ekonomisnya nol. Malahan negatif karena kamu bayar buat beli domain. Hehe…,” kata Budi menjelaskan.

“Hehe, jangan gitu dong. Hidup kan musti ada enjoy nya…,” timpal Adi.

“Nah, masih ada satu lagi komponen yang mempengaruhi gaji kita. Tepatnya penghasilan kita. Yaitu yang disebut ‘ketahanan berproduksi’,” kata Budi.

Ketahanan produksi

Ketahanan berproduksi adalah kemampuan mengolah sumber daya input. Semakin tinggi ketahanan produksi berarti semakin mampu mengolah lebih banyak input. Input bisa berupa material, uang, kemampuan, dan terutama waktu, sebagai sumberdaya yang paling terbatas. Bila digabungkan dengan produktifitas maka menghasilkan kapasitas produksi.

Misalkan pekerja A dengan daya produksi (produktifitas) 2 kendi/ kg. Dalam sehari dia bisa mengolah 100 kg/hari (ketahanan produksi). Maka kapasitas produksi dia adalah 200 kendi/hari.

Pekerja B dengan daya produksi 2,4 kendi/kg ternyata hanya bisa mengolah 50 kg bahan/hari. Dia memang mudah capek. Maka kapasitas dia adalah 120 kendi/hari.

Jadi kapasitas produksi pekerja A lebih tinggi daripada pekerja B, walaupun daya produksi A lebih rendah dibanding B.

“Nah, kamu itu punya keunggulan ketahanan produksi dibanding aku, Di. Kamu bisa tahan kerja sampai 10-12 jam, sementara aku biasanya cuma tahan 5 jam kerja,” jelas Budi kepada Adi. “Kalau kamu bisa memanfaatkan keunggulanmu itu, penghasilanmu bisa jadi lebih besar daripadaku. Tentu saja kalau produk kita punya nilai ekonomis sama.” Adi dan Budi tertawa bersama.

Karena sangat produktif, Budi cukup menggunakan 2 jam kerja sehari. Sisa 3 jam lainnya digunakan untuk mengerjakan proyek lain. Jadi Budi bisa memegang 2 proyek sekaligus. Ketika sepi proyek, Budi menggunakan waktunya untuk membantu bisnis istri berjualan baju. Total produksi Budi dalam 5 jam cukup banyak. Adi punya produktifitas separuh dari Budi. Namun Adi bisa bekerja lebih panjang. Adi juga dapat memegang 2 proyek konsultasi sekaligus, walaupun terpaksa pulang lebih malam. Bagi Adi yang rajin, kerja dalam waktu panjang terasa biasa saja.

Jadi rumus lengkap penghasilan adalah :

Penghasilan = ketahanan_berproduksi x efisiensi x efektifitas x nilai ekonomis

Rumus ini penting untuk melihat peluang dimana kita bisa meningkatkan penghasilan.

Kenapa kerja keras sering tak berguna

Rajin bekerja dan kebiasaan kerja keras sebenarnya erat berkaitan dengan ketahanan produksi. Bila daya produksi dan nilai ekonomis produk nya rendah, maka rajin dan kerja keras tidak banyak akan sebanding dengan penghasilan.

Adi mengandalkan ketahanan produksi untuk meningkatkan total produksi. Budi mengandalkan daya produksi (produktifitas) untuk menghasilkan total produksi setara Adi. Keduanya berpenghasilan sama karena nilai ekonomis produk mereka sama. Sementara itu Mr. Cedi, boss mereka, menghasilkan total produksi yang lebih rendah, namun karena nilai ekonomis produk Mr.Cedi berkali lipat lebih tinggi, maka pendapatan Mr. Cedi tetap lebih besar, di atas Adi dan Budi.

Bagaimana dengan Anda? Komponen mana yang berperan terbesar bagi penghasilan Anda? Apakah bisa penghasilan Anda meningkat dengan mengubah salah satu komponen penghasilan tersebut?

Dalam konsep SEPIA, rumus gaji tersebut bisa didekati dengan cara berikut :

  1. Efektif – IQ, makin pintar makin bisa mencari solusi yang tepat sasaran
  2. Efisien – PQ, makin cerdik makin bisa mengelola sumberdaya
  3. Ketahanan Produksi – EQ, rajin dan ulet ada gunanya
  4. Nilai Ekonomis – AQ, kemampuan membayangkan apa yang menjadi keinginan orang lain akan membantu menciptakan output yang bernilai jual
  5. Nilai spiritual – SQ, nilai spiritual membuat Anda hidup lebih bahagia

sepia penghasilan

Yah, begitulah kira-kira… )

Source: Aek Maga


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: