Posted by: pkab | 19 March 2008

Peta Kognitif Fuzzy


Oleh: Hokky Situngkir


Sebuah contoh peta kognitif fuzzy

Psikolog kenamaan, Tony Buzan semenjak tahun 1970-an mengkampanyekan penggunaan peta pikiran dalam menggambarkan dan mengkomunikasikan cara berfikir secara terstruktur . Dalam peta pikiran a la Buzan, kita menggambarkan berbagai hal yang kita anggap berkenaan dengan sistem yang kita dekati dalam gambar-gambar, warna-warna, dan kata-kata garis besar yang kita anggap penting. Hal ini dianggap dapat memudahkan proses pengajaran dalam pendidikan atau mengkomunikasikan sesuatu hal peda orang lain. Namun tentu saja, kegunaan dari peta pikiran ini lebih kepada antar muka antara masyarakat terdidik. Peta pikiran semacam ini tentu dapat dianggap sebagai bentuk primer dari peta kognitif.

Peta kognitif yang dimaksud di sini adalah abstraksi permasalahan yang ditemui oleh pengamat yang kemudian dapat digambarkan dalam model peta diagram kausal. Dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa peta diagram kausal adalah skema graf berarah yang menggambarkan hubungan/relasi sebab-akibat antara variabel-variabel permasalahan yang diamati berdasarkan keyakinan dari pengamat.

Pemodelan sistem dinamik secara komputasional saat ini tengah berkembang dengan sangat pesat, bahkan di beberapa negara maju telah diterapkan pada siswa-siswi sekolah dasar agar mereka terbiasa dengan pemikiran konstruktif yang terstruktur . Secara garis besar dapat dikatakan bahwa diagram kausal dan sistem dinamik memberikan kesempatan reasoning yang lebih baik dengan dimungkinkannya dilakukan berbagai simulasi atas model yang kita implementasikan sesuai dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki. Simulasi sistem dinamik dengan sistem diagram kausal mendasarkan diri pada persamaan diferensial dan keketatan logika tradisional antara yang benar dan salah. Yang ingin kita ketengahkan dalam makalah ini adalah bentuk lebih jauh, yakni bentuk-bentuk diagram kausal yang titik-titiknya disusun dengan elemen-elemen logika fuzzy, yakni logika yang tidak bersandar pada absolutisme “benar” dan “salah” dengan menggunakan konsep “agak benar” atau “agak salah”. Peta kognitif fuzzy ini dikenalkan oleh guru logika fuzzy, Bart Kosko, sebagai perpaduan antara logika fuzzy dan model jaring saraf .

Dalam hal ini, kita dapat mendefinisikan peta kognitif fuzzy sebagai graf berarah dengan konsep-konsep kualitas yang disusun sebagai anggota himpunan fuzzy berupa keputusan, kejadian dan sebagainya yang digambarkan sebagai titik dan sifat kausal yang menggambarkan keterhubungan antar konsep tersebut sebagai sisi.

Hubungan kausal antara tiap titik dalam peta kognitif fuzzy (A dan B, dst.) dapat berhubungan lurus (biasanya diberi tanda “+1” atau “+” saja. Artinya jika kualitas dari konsep A membesar maka kualitas konsep B juga membesar, sebaliknya jika kualitas konsep A mengecil maka kualitas konsep B juga mengecil. Di sisi lain, hubungan kausal ini pun dapat berkebalikan, biasanya diberi tanda “-1” atau “-“ saja. Dalam hal ini, jika kualitas konsep A membesar maka kualitas B mengecil dan sebaliknya. Hubungan antara titik-titik dalam peta kognitif fuzzyyang tidak diberi garis sisi (keterhubungan) dikatakan sebagai tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. Keterhubungan ini biasanya diberikan tanda “0”. Namun tentu saja, keterhubugan antara dua konsep dalam peta kognitif fuzzy tidak melulu {-1,0,1}. Keterhubungan tersebut pada dasarnya dapat berupa anggota bilangan riil antara 0 dan 1 dan lawannya.

Sumber: Gadget


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: