Posted by: pkab | 9 January 2008

Improve Learning With Colours (bagian 2)


Cerita sebelumnya.

Cara pembuatan catatan menjadi perhatian karena dari sini bermula orang melakukan pembelajaran. Ada 4 cara yang telah digunakan oleh orang yaitu: teks paragraph, daftar, hirarkikal (pakai nomor I, II, II.a, dst) dan kombinasi ketiga cara sebelumnya. Dengan tujuan agar: bisa mengingat, melakukan kreativitas, berpikir, mengerti, berkonsentrasi, mengorganisasikan, pembuatan catatan, dan memecahkan masalah. Cara-cara tersebut menggunakan: kata-kata, bilangan, garis, baris, urutan, daftar, analisis, dan menggunakan satu warna pen. Kesemuanya adalah hanyalah bagian otak kiri saja yang dipergunakan. Padahal ada bagian otak kanan yang bisa berimaginasi, warna, kemampuan overview, irama, berkhayal, layout, dll. Dengan 1 warna saja menjadikan Mono Tone -> Monotonous -> BORING -> sehingga tidak heran kalau baru baca 5 halaman penuh teks mata inginnya menutup karena otak sudah bosan dan ingin menshut down mata dan otak pergi tidur.

Ada 3 keahlian yang diperlukan untuk meningkatkan keefektifitasan pencatatan yaitu: kata kunci, warna dan gambar kunci. Biasanya dalam 1 teks berpagraf banyak kita bisa mengambil 10% kata kunci. Dari kata-kata kunci itulah disusun menjadi Peta Pikiran atau Peta Konsep. Kemudian diperlihatkan 2 slide: 1 penuh teks tentang proses fotosintesis dan 1 lagi peta pikiran yang penuh warna tentang proses fotosintesis.

Sesi berikutnya penjelasan tentang “Apa itu Peta Pikiran (Mind Map)” dengan Hukum-hukum pembuatan Peta Pikiran. Dimulai dari jam 2: tools (kertas (mendatar, polos), pinsil (4 warna)), dan seterusnya. Kurang lebihnya dasar hukumnya/ gambarnya mirip dengan Hukum Peta Konsep yang pernah dipostingkan di sini. Ditekankan sekali oleh Lim penggunaan hanya 1 kata kunci, dengan ukuran panjang cabang seukuran kata yang akan ditulis, dan posisi kata harus di atas cabang itu. Kedalaman peta sebaiknya mengikuti rumus Magic Number yaitu: 7 +/- 2. Artinya kedalaman maksimum 9 level. Di luar itu otak kiri (Short Term Memory) tidak efektif lagi. [ini tambahan dari Suryadi] Sebaiknya membuat Multi Map. Seperti contoh: Peta Konsep Tubuh Manusia sebagai Center Image maka ada Dahan Kepala. Di Dahan Kepala ada Cabang: Mata, Hidung, dll. Kemudian kita membuat Peta Konsep baru dengan Central Imagenya adalah Mata. Dari Mata dibuatkan Dahan Syaraf. Dari Dahan Syaraf dibuatkan Cabang-cabang: nama-nama syaraf mata. Dari Mata dibuatkan Dahan Bola Mata, dan seterusnya [akhir tambahan]. Di akhir acara diperlihatkan beberapa contoh Peta Pikiran dan ada Hukum Peta Konsep dalam Bahasa Mandarin, walaupun tidak bisa membaca tulisan Mandarinnya, tetapi kita masih bisa melihat image/ symbol, gambar dahan yang mirip dengan yang versi Bahasa Indonesia.

Ada satu sesi di mana peserta diajak untuk membuat Peta Konsep tentang CINTA sebagai topik utamanya, diberi waktu hanya 5 menit. Hasilnya dibandingkan dengan Top 5% mahasiswa Harvard dan Cambridge UK dengan waktu 10 menit dalam teknik list. Hasilnya mengejutkan! Mahasiswa dari 2 universitas terkemuka itu hanya berhasil mengenerate 24 konsep. Sedangkan 1 orang ibu berhasil membuat 118 konsep. Penjelasannya: dengan cara mendaftarkan perkataan urut ke bawah, membuat otak malas berpikir lebih lanjut karena menganggap sudah banyak solusi telah dihasilkan. Satu kata dengan kata lain terlihat tidak berkorelasi. Sedangkan dengan Peta Konsep maka setiap cabang ditulis sebuah kata maka itu akan memancing otak untuk menghasilkan asosiasi baru ke level selanjutnya. Misalkan: sebuah dahan berisi kata: KELUARGA. Dari Dahan ini dibuat Cabang AYAH, IBU, ADIK. Dari Cabang AYAH dibuatkan cabang lagi: Berkumis, Perhatian, Disiplin. Dari Cabang IBU dibuatkan cabang lagi: Anggun, Memasak. Dari Cabang MEMASAK dibuatkan cabang lagi: Jago, Favorit. dari Cabang FAVORIT dibuatkan cabang nama2 masakan yang membuat kita teringat akan Ibu kita yang jago memasak hingga kita semakin cinta atau sayang sama ibu kita. Itu baru dari satu DAHAN KELUARGA. Belum kalau pada Dahan lain dituliskan nama pasangannya, dikembangkan Sifatnya, Pekerjaannya, Apa kelebihan dia, dll.


30 menit terakhir digunakan untuk berlatih membuat peta konsep dari sebuah cerita tentang John yang dibuat oleh Lim. Setelah acara tanya jawab tentang penggunaan Peta Konsep di bidang pekerjaan dan bisnis maka acara ditutup oleh Pak Ricky. Langsung dibagikan sertifikat dan lunch box dan para peserta yang jumlahnya lebih dari 40an orang pulang dengan puas.


Sempat dijelaskan alasan mengapa harus menggunakan Point 88 dari Stabilo dalam pembuatan Peta Konsep. Jawaban dari Lim adalah karena: kualitas, daya tahan, ragam warna yang tersedia, ukuran 0.4 mm cocok untuk menggambar dan menulis, tinta cepat kering sehingga tidak membuat gambar/ tulisan berantakan kena gosok tangan.

Walaupun tahapan pembuatan Peta Konsep hanyalah 5 langkah saja, seperti tercetak pada selipan buku dari produk Point 88 Stabilo, anda harus melihat secara langsung dan harus mulai menggunakan teknik pembuatan Peta Konsep untuk merasakan manfaat dan kehebatannya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: