Posted by: pkab | 10 November 2007

Sharing Peta Konsep di Kelas Brilliance


Apakah Cloning itu etis dari sudut agama?

Sabtu pagi, setelah mendrop istri saya ikutan merangkai bunga mimbar di rumah Grazia saya mampir di sekretariat, rencananya mau nebeng internet di sana sambil menunggu ia selesai. Saya bertemu dengan Pak Raffel R yang sedang mencari-cari bahan tentang kloning, terutama dari sudut pandang agama. Saya bantu carikan dengan Google. Sayangnya dan saya mau komplain terhadap FirstMedia, karena di beberapa lokasi, hasil temuan dan beberapa website tidak bisa dibuka melalui FirstMedia. Contoh saya hanya bisa sampai di http://www.wordpress.com, tapi tidak bisa tembus ke https://pkab.wordpress.com. Sehingga saya tawarkan untuk saya masuk ke kelasnya untuk berdiskusi tentang Kloning dengan Peta Konsep dengan murid-murid tersebut.

Kelas tersebut adalah Brilliant Classnya BPK Penabur. Saya pikir para muridnya tidak akan menemukan kesulitan untuk mengembangkan dari satu titik menjadi 5 cabang di level berikutnya. Kami berandai-andai dan berhitung, kalau setiap 1 ide bisa dikembangkan menjadi 5 sub-ide di level berikutnya, maka dalam 10 level maka akan tercipta 9.765.625 ide untuk satu Peta Konsep. Akan saya postingkan juga tentang Peta Konsep dari Game Online Second Life yang seluas 1 lapangan bola, secara terpisah.

Sambil saya ceritakan tentang latar belakang mengapa kloning diusahakan oleh para ilmuwan dan perkembangan kloning saya menambahkan ide-ide pada cabang-cabang Peta Konsep, secara random letak penambahan ide-ide itu. Tapi pelan-pelan seperti bermain puzzle atau jigsaw maka gambaran atau ide tentang kloning mulai terbentuk secara utuh. Bila ada bagian yang masih dirasakan kurang, maka bisa dengan segera di tambahkan/ di tambalkan kepingan yang baru. Peta Konsep yang ditampilkan telah saya bawa pulang dan ditambahin dengan gambar, link yang relevan dan penambahan warna agar tidak terlihat membosankan. Bila tiap cabang itu diberikan tulisan beberapa paragraph, mungkin secara random juga penemuan artikel dan gambar dari internet yang relevan, kemudian dibaca, disarikan dan ditulis pada cabang yang tepat, maka ketika Peta Konsep tersebut diekspor akan jadi 1 dokumen Word yang utuh, sehingga tugas pembuatan makalah menjadi lebih mudah dan ringan.

Ketika ada pertanyaan dari siswa, maka saya bisa kemudian menambahkan bagian-bagian yang diperlukan untuk dikembangkan lebih lanjut. Pertanyaannya: sampai seluas apa peta konsep itu akan menjadi? Jawabannya: sampai seluas dan sedalam yang diinginkan oleh si pembuatnya. Apalagi dengan kemampuan IQ di atas rata-rata kebanyakan siswa, maka tiap siswa akan berkembang dengan kecepatan ia belajarnya tanpa dibatasi lagi oleh hambatan berpikir secara linier. Bayangkan kalau di antara mereka (yang jumlahnya sekitar 20an orang) saling menukarkan dan menggabungkan peta-peta konsepnya. Bisa jadi satu siswa fokus pada bagian cabang tertentu sedangkan siswa yang lain menemukan hal lain dan membahasnya dari sudut pandangnya.

Pertanyaan: kalau begitu siapa yang betul bila ada dua peta konsep yang berbeda? Jawabannya: mungkin istilahnya harus diganti menjadi “peta konsep mana yang lebih logis dan tepat.” Ibarat saya memegang sebuah buku di hadapan para pendengar. Ketika saya tanyakan apa yang terdapat pada cover buku ini. Pendengar bisa saja bilang: oh ya, ada judulnya, ada gambar ini itu. Saya juga bisa bilang: ndak ah.. yang saya lihat adalah nama dan alamat penerbit (yang terdapat pada cover bagian belakang). Siapakah yang benar dari kedua pendapat yang berbeda itu? Jawabannya adalah kita harus menggabungkan dan melakukan konsensus bersama antar dua Peta Konsep yang ada sehingga menjadi Peta Konsep yang lebih lengkap.

Gajah = Tombak, Selang, Kipas, Tembok, Batang Pohon, Tali

Cerita di atas mentrigger saya untuk menghubungkannya dengan cerita 6 orang buta yang ditanyakan: seperti apakah gajah itu? Masing-masing berpendapat dan ngotot bahwa dialah yang paling benar. Bukankah hal ini juga terjadi pada bangsa kita saat ini? Masing-masing memegang teguh pendapat dan petanya masing-masing. Sudah saatnya kita bangkit dan bersama-sama memetakan konsep agar bisa menjadi sebuah Mega Peta Konsep bagi kesejahteraan rakyat seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.

Siang, kebetulan Pak Winfrid dan Bu Yuyun sedang melihat-lihat lokasi rumah di komplek Crystal. Segera setelah selesai dari kelas saya pulang ke rumah dan memberikan presentasi dan diskusi tentang pemanfaatan Peta Konsep dengan Pak Winfrid. Ia memberikan kesempatan dan mengundang saya untuk presentasi Peta Konsep kepada kepala-kepala bagian pada saat rapat koordinasi hari Senin pagi.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: