Posted by: pkab | 29 April 2008

Peta Pikiran dan ” kebebasan” individu dalam pembelajaran PPKn


Oleh: Martinus Eko. N
Guru PPKn

Pendidikan selalu berpegang pada prinsip norma dan moral yang menjadikan masyarakat merasa yakin bahwa dengan pendidikan manusia sudah pantas dan layak untuk berbuat kebaikan demi menyelamatkan sesama. Berpijak pada pendapat diatas berarti pendidikan akan menjadikan manusia lebih bermartabat dalam hidup. Perlu diingat bahwa pijakan untuk menjadikan manusia lebih bermoral terletak pada proses pembentukan kepribadian setiap individu itu sendiri. Disini peran pendidikan sebagai pembangun mentalitas generasi muda sangat penting.

Pendidikan selalu berpegang pada prinsip norma dan moral yang menjadikan masyarakat merasa yakin bahwa dengan pendidikan manusia sudah pantas dan layak untuk berbuat kebaikan demi menyelamatkan sesama. Berpijak pada pendapat diatas berarti pendidikan akan menjadikan manusia lebih bermartabat dalam hidup. Perlu diingat bahwa pijakan untuk menjadikan manusia lebih bermoral terletak pada proses pembentukan kepribadian setiap individu itu sendiri. Disini peran pendidikan sebagai pembangun mentalitas generasi muda sangat penting.

Dewasa ini peran pendidikan sebagai pembangun martabat dan kebebasan individu sebagai pribadi yang otonom dirasa sangat jauh dari kenyataan. Pendidikan lebih menekankan pada pembentukan individu yang tidak mempunyai kebebasan berpikir dan bernalar. Sebagai contoh dapat dilihat dalam proses penilaian dan pendekatan numerical. Semua proses serba diukur dengan angka tanpa memperhatikan bagaimana dan dengan apa angka itu diperoleh. Pandangan yang melekat dalam diri pengajar bahwa siswa sebagai individu tidak dan kurang mengerti akan pengetahuan maka dari itu pengajar harus memberikan pengetahuan itu. Dalam proses muncul pemasungan ide yang sebenarnya kalau digali lebih dalam tentunya ide tersebut akan memberikan tambahan wawasan bagi proses belajar itu sendiri. Ada kesan bahwa penemuan kebenaran itu datang dari satu pihak yaitu pengajar itu sendiri, hal ini yang memunculkan stigmatisasi bahwa siswa sebagai individu dan makluk social secara kodrati telah kehilangan keunikannya sebagai makluk ciptaan Tuhan yang sempurna.

Berpijak dari pendapat Prof. Dr. Driyarkara, S.J., pendidikan merupakan proses pembentukan manusia-manusia muda supaya mereka memiliki kepribadian yang utuh dan menarik. Oleh karena kepribadian yang utuh dan terpadu bersifat multi dimensional maka pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang bersifat menyeluruh dan memperhatikan berbagai segi kepribadian secara seimbang ( lihat dalam Al. Hadiwardoyo, M.S.F., : Pendidikan moral dalam perguruan tinggi, Pelangi Pendidikan, A.M. Slamet Soewandi, D.K.K ( Penyunting ), Penerbit USD, Yogyakarta, 2005., hal., 92 ). Hal itu jelas mengindikasikan bahwa peserta didik tidak dipahami hanya sebagai objek dalam pendidikan tetapi sebagai subjek yang mempunyai dimensi menyeluruh secara total sebagai manusia ciptaan Tuhan yang sempurna. Untuk itu, diperlukan pemahaman dari kalangan pendidik bahwa eksploitasi siswa yang menjurus pada pemaksaan, intimidasi atau pemasungan ide harus segera diakhiri. Pendekatan yang digunakan pun harus bersifat multicultural dan multidimensional. Perlakuan siswa sebagai pribadi yang unik dan menarik juga menjadi perhatian khusus dan keharusan untuk dipahami oleh seluruh komponen pendidik. Tujuan utama pendidikan adalah menghasilkan perubahan-perubahan yang positif di dalam diri peserta didik sehingga mereka mampu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dan warga masyarakat yang efektif. ( A. Supratiknya : Sistem Pendidikan Indonesia saat ini dalam Perspektif Psikologis, ibidem, hal., 179 ). Dengan memperhatikan kenyataan tersebut maka pendidikan sangat penting demi menumbuh kembangkan kemampuan siswa yang lebih komplek dan mempunyai kecakapan hidup yang lebih baik. Peserta didik harus mampu menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya menunju pada pendewasaan diri.

Masa remaja menjadikan perhatian khusus bagi orang tua maupun guru-guru disekolah. Perlu diingat bahwa pada masa ini remaja akan merasa dirinya ingin bebas berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak sendiri dan teman sebayanya. Konsep benar akan dilihat dari sejauh mana tindakan itu mengasyikkan bagi dirinya dan diterima dalam pergaulan. Pada masa ini tidak jarang remaja akan menabrak norma atau etika yang sudah lama terbentuk dan terkadang mereka tidak mau menerima saran dan masukan dari guru atau orang tua. Nah sebenarnya disinilah letak peran pendidik untuk membantu pencarian identitas diri siswa yang terkadang mulai “ hilang “ oleh arus mode atau gaya hidup. Pada masa ini siswa diberi kesempatan untuk belajar membedakan yang baik dan buruk, sehingga dikemudian hari secara bertahap dia tidak lagi membutuhkan peraturan dari orang tua karena sudah bisa menentukan yang terbaik untuk dirinya. ( Anita Lie: 101 Cara menumbuhkan kecerdasan Anak, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2004 ). Ini berarti siswa dilatih dan disiapkan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri sejak dini agar tidak selalu tergantung dari orang tua maupun lingkungan keluarga. Hal ini dilakukan dengan penuh kesadaran untuk membantu proses penemuan dan penyadaran siswa, bukan dengan ancaman, hujatan atau intimidasi yang dibungkus dengan kata “ wajib “ dan atau “ harus “. Setiap anak remaja tentunya juga ingin menemukan jati dirinya dengan dibantu orang sekitarnya termasuk guru agar mereka bisa menemukan konsep diri ( self concept ) yang akan menuntun mereka pada keberhasilan. Konsep diri (self concept) akan menjadikan pribadi lebih menarik dan sukses. Untuk memahami keberadan konsep diri (self concept) yang baik maka seseorang perlu men-set ulang atau memprogram ulang komputer mentalnya sehingga dia akan tahu cara menggunakan atau membuat konsep diri yang akan digunakan dalam menuntun atau memenejemen dirinya ( bdk., Adi W. Gunawan : Born to be a Genius, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003., hal. 4 ). Dalam hal ini sekolah harus berani memfasilitasi segala bentuk aktifitas siswa dalam rangka mencari atau menemukan dirinya sendiri sebagai makluk yang sempurna. Siswa akan merasa bangga dan senang seandainya ternyata dirinya manusia yang bermartabat dan unik serta merupakan bagian dari rencana Allah. Untuk itu diperlukan pendampingan dari para pendidik sehingga dalam penemuan jati dirinya siswa tidak merasa digurui, penuh dengan keterpaksaan. Mereka akan merasa bangga seandainya dalam pendampingan dan penemuan jati dirinya mereka tidak tercerabut dari akar masa periodenya sebagai seorang remaja. Mereka perlu keteladannan yang baik yang bisa diterima dari sudut pandang remaja, mengasyikkan dan menghargai sebuah pribadi. Mereka membutuhkan kontrol akan norma dan etika yang datang dari seorang figure “sahabat” atau orang yang mau mengerti keadaannya pada masa sekarang ini.

Beranjak dari pemikiran tersebut maka pembelajaran PPKn di SMP Santa Maria akan mencoba mengangkat individu sebagai makluk yang bermartabat yang secara jelas dan tegas menemukan substansi dari kebebasan itu sendiri. Kebebasan disini bukan diartikan sebagai bebas sebebasnya akan tetapi kebebasan yang bisa menghargaai kebebasan orang lain sebagai makluk social. Kebebasan yang lebih terarah sebagai suatu cara berpikir dan bertindak dengan berlandaskan pada hakekat manusia yang berakal budi. Selain kebebasan berekspresi yang beretika, setiap individu diharapkan juga dapat menggunakan kebebasan bernalar sesuai dengan kemampuan atau daya pikir dia sendiri sehingga mereka akan menemukan konsep diri yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengambil setiap tindakan tanpa terombang ambing oleh keadaan.

Dalam proses pembelajaran PPKn diusahakan selalu melihat bahwa siswa sebagai manusia yang bebas dan otonom maka diperlukan pendekatan dan pemahaman terhadap kondisi umum kelas. Pendidik akan selalu mengeksplorasi kemampuan siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang akan ditempuh pada setiap standar isi. Penentuan dan pemilihan indicator dalam pembelajaran menjadi hal mutlak yang perlu mendapat perhatian khusus agar siswa mampu dan mau membuka diri dan mengeksplorasi kemampuanya. Kebebasan siswa untuk mengekspresikan dan berpendapat perlu ditunjang dengan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran. Pemilihan metode belajar merupakan kunci dimana siswa mau diajak untuk bersama-sama menenukan hakekat dari pengetahuan itu sendiri. Motivasi guru pada siswa juga akan berdampak pada cara dan mau diapakan siswa setelah itu. Siswa tentunya akan termotivasi seandainya mereka merasa tertantang untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Sepanjang pengalaman penulis, siswa akan merasa bangga seandainya dalam metode belajarnya mereka diberi kebebasan untuk mengekspresikan diri atau memvisualkan diri dalam bentuk tindakan. Untuk itu, perlu membuat pemetaan kompetensi dasar atau indicator yang akan menggunakan metode-metode tertentu. Semisal dalam pembelajaran PPKn untuk kelas 7 pada kompetensi dasar partisipasi masyarakat dalam otonomi daerah atau mendeskripsikan kasus-kasus pelanggaran HAM metode yang digunakan adalah portofolio. Dalam metode ini kelas dibagi dalam bebarapa kolompok untuk membahas tentang “ Bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo “. Setiap kelompok membahas dari sudut pandang yang berbeda, missal: kelompok A menganlisa bahwa Bencana Lumpur Lapindo bisa merupakan salah satu pelanggaran HAM, kelompok B mencari upaya-upaya yang sudah ditempuh pemerintah dan menilai berhasil atau tidak, kelompok C menentukan kebijakan strategis pemerintah dalam mengatasi kasus tersebut dan kelompok D membuat peta konsep tentang penanganan korban lumpur dengan menawarkan konsep pembangunan berwawasan lingkungan. Kelompok D bertugas menyakinkan masyarakat korban Lumpur bahwa mereka mau pindah dengan suka rela dengan bentuk penawaran sebuah pemukiman yang sehat, bersih, murah dan berwawasan lingkungan. Kelompok akan membuat suatu kawasan kota mandiri dengan memperhatikan aspek-aspek tertentu. Mereka bisa mewujudkan dalam suatu maket perumahan dan peta lokasi. Dengan metode ini siswa akan bebas memvisualkan dirinya dan babas berpendapat tanpa ada tekanan atau takut disalahkan. Hal ini akan melatih kemampuan berpikirnya tanpa harus mengikuti karangka berpikir atau konsep berpikir dari gurunya. Siswa akan terbiasa membuat peta berpikir yang bermuara dari kemampuan mereka mengeksplorasi seluruh sarana dan kemampuan yang dipunyainya. Peta pikiran tersebut akan membantu dalam menguasai setiap kompetensi dasar yang akan ditempuhnya. Dalam peta berpikir tersebut siswa akan mampu menarik konsep dasar dan informasi yang didapat dengan menitik beratkan pada gagasan-gagasan utama yang muncul. Hal ini akan membantu siswa dalm mengingat atau menarik suatu kesimpulan terhadap suatu kasus tanpa mereka harus menjejali otaknya dengan informasi searah saja. Dengan menggunakan warna dan peta tiga dimensi siswa akan semakin mantap dalam membuat konsep dasar dalam peta pikirannya. Siswa yang kreatif akan menggunakan kemampuan berpikirnya untuk sebebasnya dalam menuangkan ide atau gagasan dan dengan demikian masalah bencana lumpur lapindo di Sidoarjo dapat teratasi menurut cara berpikir siswa. Dengan kemampuan mengimajinasinya pengetahuan tersebut akan menancap kuat dalam peta pikiran anak, hal ini dimungkinkan karena setiap gagasan yang muncul dan dibiarkan terbuka lebar sehingga peta berpikir akan berkembang secara organic dan semakin meningkat bukannya ditindas. ( bdk., Tony Buzan: Menggunakan Kepala Anda, tehnik berpikir, belajar dan membangun otak., tanpa penerbit dan tahun, hal. 127 ). Selain menggunakan metode portofolio masih banyak lagi yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi kemampuan berpikir siswa misal observasi dengan bantuan VCD dengan memilih film-film dokumenter yang sesuai dengan indicator atau kompetensi dasar yang akan ditempuhnya. Menggunakan permainan ular tangga atau monopoli dengan memasukkan materi konsep pada setiap kotak dalam permainan tersebut. Siswa juga berhak menentukan hukuman dan point dari setiap kelompok yang melanggar permainan. Dalam metode ini siswa harus sportif dan menyadari bahwa setiap langkah ada aturannya. Makna yang dapat diambil dalam metode ini adalah siswa sadar bahwa dalam kehidupan ini selalu ada aturannya, dampak dari pelanggaran terhadap aturan dan kerelaan untuk mematuhi setiap aturan.

Dengan pola pembelajaran tersebut diharapkan bahwa materi akan mudah dicapai, siswa merasa enjoy dalam menggunakan kemampuan berpikirnya tanpa harus terintimidasi oleh aturan atau sistem yang berlaku. Mereka merasa bebas berpendapat, bersikap dan mereka juga sadar bahwa sikap dan cara pikir yang salah akan berdampak atau menyengsarakan orang lain. Mereka merasa menjadi orang yang merdeka dalam kelasnya dan yang terpenting mampu menangkap materi tanpa harus tersiksa. Dengan proses pembelajaran yang menekankan pada metode belajar siswa proaktif maka siswa akan mengalami perkembangan dan pematangan diri yang lebih menyeluruh. Diharapkan siswa dapat memanajemen dirinya dalam artian bahwa dia tahu kapan harus bersikap apa, dengan siapa dan bagaimana tindakan tersebut dapat dilakukan. Dalam pengambilan keputusan, siswa dapat mengeksplorasi kemampuan nalarnya, imajinasinya sehingga segala sesuatu sudah terkonsep dalam peta pikirannya sehingga muncul sikap kritis, kreatif, imajinatif dan inovatif.

Pembelajaran PPKn dapat menghasilkan siswa yang unggul dalam segala hal, tidak hanya intelektual akan tetapi tumbuh kecerdasan emosional dan spiritual. Dalam praktek kesehariannya pendidik diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran siswa pada tataran yang lebih behavioris dalam artian bahwa kesadaran individu tidak dibangun berdasarkan pada intimidasi atau terror tetapi lebih mengedepankan pada kebersamaan dan pengharagaan pribadi sebagai makluk bermartabat dan mulia. Reflektif empiris merupakan salah satu usaha menggugah kesadaran siswa sebagai manusia yang bermoral dan beretika. Sebagai pendidikan formal yang mengedepankan aspek intelektual pembelajaran PPKN mencoba menghasilkan siswa yang mempunyai kecakapan hidup atau life skill. Kecakapan hidup yang ingin ditonjolkan terletak pada dua aspek yaitu employ ability skill dan vocasional skill. Employ ability skill meliputi bebarapa ketrampilan diantaranya ketrampilan dasar, berpikir tingkat tinggi, pembentukan karakter dan ketrampilan afektif. Dalam hal ini pembelajaran PPKn mengajak siswa untuk rajin mencari setiap informasi yang actual melalui kegiatan membaca berita di Koran atau majalah perpustakan, internet dan lain sebagainya. Informasi yang didapatkan siswa kemudian diolah bersama-sama kelompok kerjanya, kemudian siswa belajar membuat pemetaan kasus. Siswa melakukan telaah terhadap informasi dengan menemukan intisari dari kasus tersebut, sebab terjadinya dan solusinya. Problem solving dalam setiap kegiatan pembelajaran merangsang siswa untuk dapat mengembangkan daya nalar dan imajinasinya sehingga dapat membuat keputusan yang cepat dan akurat. Pada tataran behavioris siswa dapat melakukan atau menampilkan hasil pemikirannya dalam hidup sehari-hari tanpa harus sungkan atau malu dengan memperhatikan prinsip humanitas. Aspek vocasional skill meliputi ketrampilan khusus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus. Dalam hal ini pembelajaran PPKn secara idealis mengharapkan siswa dapat merancang atau membuat konsep tertentu dalam kegiatan studi kasus yang dilakukannya. Konsep-konsep tersebut berupa kristalisasi ide-ide baru dari beberapa siswa yang kompeten. Kegiatan ini tampak dalam pembelajaran siswa kelas 7 pada saat beberapa siswa yang ditunjuk dan dikategorikan mampu membuat peta konsep dan maket kawasan kota baru sebagai upaya penyelesaian masalah Lumpur lapindo di Sidoarjo. Peta konsep didasarkan pada kondisi riil masyarakat dan kemampuan pemerintah. Dalam peta konsep tersebut siswa juga mengusulkan rancang bangun pemukiman penduduk yang sehat dan berwawasan lingkungan hidup. Dengan mengangkat tema pembangunan kota Porong Baru yang berwawasan lingkungan, siswa dapat berimajinasi dengan peta alam, gambar wilayah, bentuk bangunan atau maket bangunan sekaligus memvisualkan seluruh daya pikirnya.

Pada dasarnya kebebasan berpikir dapat membantu siswa menemukan jati dirinya sebagai manusia yang bermartabat. Untuk itu, dalam proses pembelajarannya siswa diharapkan mau terbuka segala bentuk masukan yang sifatnya membangun begitu juga dengan pendidiknya. Siswa dan pendidik harus bekerjasama dalam satu misi yang sama yaitu menciptakan generasi muda yang cerdas secara intelektual, emosional mapun spiritual. Leadership atau jiwa kepemimpinan juga tumbuh seiring dengan perkembangan intelektualnya. Diharapkan setelah menempuh pendidikan di Santa Maria setiap individu mampu mengelola dirinya, bermoral dan mempunyai sikap humanitas yang tinggi menuju pada pendewasaan yang semakin mantap dengan tidak meninggalkan nilai-nilai religius yang semakin berkembang.

Kota lumpur, 22 Februari 2007

Sumber: SMP Santa Maria, Surabaya

About these ads

Responses

  1. Peta konsep membantu dalam pembelajaran berbasis konteks. antara lain dalam menggali gagasan-gagasan utama pengidentifikasian masalah, pencarian alternatif, dan penemuan solusi. Bagaimana caranya agar semua sekolah pada tingkat apapun memperhatikan dan memfokuskan pada pembelajaran berbasis konteks; peta konsep membantu memfasilitasi proses pembelajaran ini. Masyarakat ada untuk sekolah, bukan sebaliknya. Pendidikan berbasis konteks meningkatkatkan relevansi keberadaan sekolah di masyarakat. Aspek atau sisi saintifik dan sisi praktis pembelajaran bergandengan tangan menyatu, bukan sebaliknya berada dalam sisi berlawanan dan saling menyalahkan.

    Mengutip Bachelard:
    “…la Société sera faite pour l’École et non pas l’École pour la Société.”

    Reference:
    Bachelard, G. 1938, 1999. La formation de l’esprit scientifique: contribution à une psychanalyse de la connaissance. Paris: Librairie Philosophique J. Vrin

    @F


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,172 other followers

%d bloggers like this: