Posted by: pkab | 31 March 2008

Melatih Anak Bersikap Toleran Lewat Sosiodrama


Oleh: Arixs

PROSES pendidikan di jenjang taman kanak-kanak merupakan upaya pengembangan potensi kognitif, psikomotorik, dan afektif anak. Namun, pola pengajarannya bersifat khas.

“Praktiknya harus disesuaikan dengan pertumbuhan fisik maupun psikologis mereka,” ujar praktisi pendidikan anak Hanny Iriany Agustien, S.Pd.

Guru TK Saraswati 2 Denpasar ini menekankan, pendidikan anak TK yang termasuk pendidikan anak usia dini (PAUD) memerlukan kesiapan diri si anak. Proses belajar tak hanya melulu menekankan aspek fisik semata, tetapi pengembangan aspek psikis pun harus berjalan seimbang.

”Secara psikis, proses belajarnya harus sesuai dengan tahapan perkembangan mental anak. Motivasi belajar harus bertumbuhkembang dari dalam diri anak sendiri,” katanya.

Untuk menumbuhkembangkan motivasi tersebut, kalangan pendidik maupun orangtua mesti memahami pola didik dasar yang cocok untuk anak usia dini. Pola didik tersebut bertumpu pada dunia bermain.

“Bermain sepanjang hari merupakan aktivitas favorit anak. Tanpa disadari berkat aktivitas bermainnya kelak potensi kreatif anak berkembang,” kata guru yang berprestasi di bidang seni melukis ini.

Permainan dalam dunia anak merupakan proses belajar. Itu berarti, keseharian bermain otomatis mencerminkan proses belajar mereka. Anak usia TK khususnya sedang berada dalam tahapan praoperasional kongkret, yaitu tahapan persiapan proses pengorganisasian pekerjaan yang kongkret.

Masa ini pun menjadi tahapan melatih proses berpikir intuitif , yaitu anak dilatih untuk mencerna aspek ukuran besar kecil, bentuk dan hubungan benda satu dan lainnya.

”Ini didasarkan pada interpretasi dan pengalamannya selama belajar dalam suasana bermain tadi,” jelas alumnus Jurusan Psikologi Anak Bimbingan Konseling IKIP PGRI Denpasar ini.

Belajar dalam suasana bermain akan memudahkan anak memahami materi pelajaran ketimbang proses belajar formal yang serius. Anak akan mudah merekam apa pun yang sedang ditekuninya selama proses belajar berlangsung.

”Ini bahkan sebenarnya bukan hanya akan menumbuhkembangan aspek fisik, intelektual, dan emosi anak belaka, juga aspek sosialnya,” jelas narasumber pola pengasuhan anak dalam berbagai seminar pendidikan anak usia dini ini.

Proses belajar semacam itu akan menghasilkan kemampuan sosok anak didik yang berbeda dengan pola ceramah. Dalam pola ini anak hanya menjadi pendengar apa yang diajarkan gurunya. Ini membuat anak sukar menerima dan memahami hal-hal baru. Ini lebih parah lagi jika anak diposisikan sebagai objek dalam proses belajarnya.

Proses pendidikan usia dini dianjurkan lebih mempertimbangkan sistem student based learning. Anak diarahkan agar mengisi kesibukan dalam proses belajar, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator saja.

Namun, guru harus dibekali dengan kemampuan kreatif dan inovatif dalam mengarahkan, membimbing kegiatan si anak selama belajar. “Ini agar anak mau menikmati proses belajar dalam suasana hati yang menyenangkan,” tukas Guru Berprestasi se-Denpasar Timur Tahun 2007 ini.

Dalam proses bermain, menurut Hanny, setidaknya ada kandungan nilai pendidikan yang dapat diserap anak didik. Nilai pendidikan tersebut dikembangkan melalui aktivitas yang dapat memberikan pemahaman (kognitif), dapat melatih anak memerankan suatu kegiatan (seni), serta melatih anak bersikap jujur, toleran, tekun, dan lain-lain sebagai sebuah upaya pembiasaan.

Hanny menekankan, sosiodrama merupakan proses pembelajaran dalam bentuk permainan yang disesuaikan dengan dunia anak seusianya, yaitu pemaparan dan pemetaan pikiran anak (mind map drawing).

Setiap anak diberikan peran masing-masing sekaligus tugas yang diarahkan agar dapat diselesaikannya dalam suasana bermain.

“Melalui peran yang dilakoninya si anak mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru tanpa mereka sadari itu sebelumnya sebagai tugas belajar. Imajinasi anak akan berkembang secara spontan tanpa kelewat banyak diatur-atur menurut selera gurunya.

Guru hanya menjelaskan cara bermain dan menetapkan peran masing-masing anak. Permainan harus dilakoni anak dalam suasana gembira dan semangat yang tinggi. Namun, guru harus memahami suasana hati anak saat itu. Jika anak mulai tampak bosan sebaiknya segera diakhiri agar anak tak kecewa lantaran dipaksa terus bermain,” paparnya. —sam

Sumber: Cyber Tokoh

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,172 other followers

%d bloggers like this: