Posted by: pkab | 19 March 2008

MindMapping


Oleh: Idrianita
Mind Map: Merencanakan Anggaran

Pernahkah anda merasa pusing diberikan tanggung jawab menyelesaikan sebuah persoalan, dan tidak tahu mau memulai dari mana? Atau merencanakan sesuatu event ternyata terselenggara dengan kurang baik karena ada aspek penting yang terlupa pada saat perencanaan, atau sebagai mahasiswa yang ingin menulis skripsi atau thesis terjebak dalam fikiran mau menulis topik tertentu tetapi bingung untuk memasukkan aspek apa saja? Dalam kondisi di atas memang kita perlu berfikir secara sistematis dan mengurai persoalan satu persatu dan membuat fikiran kita fokus untuk hal yang penting. Kita perlu memanggil dari memori apa saja yang pernah kita ketahui tentang masalah tersebut dan apa saja yang perlu dicari tahu selanjutnya. Bagaimana menata pikiran dengan baik disaat-saat kita dituntut untuk memutuskan atau melakukan sesuatu, sehingga kita tidak melupakan beberapa aspek penting dari persoalan tersebut?

Tony Buzan mengajarkan biasakanlah membuat peta pikiran (mind maping) untuk setiap persoalan yang hadapi. Seperti halnya peta yang dapat memandu kita untuk menemukan suatu tempat yang terpencil, maka mind map menggiring kita agar dapat berfikir sampai ke masalah detil sekalipun. Pusat mind map mirip dengan pusat kota mewakili terpenting. Jalan utama yang menyebar dari pusat kota mewakili pikiran-pikiran utama dalam proses pemikiran kita, jalan-jalan sekunder mewakili pikiran sekunder dan seterusnya.


Mind Map:Penyelesaian Masalah Secara Kreatif

Sebagai seorang dosen saya sering kali mengamati perilaku mahasiswa yang sangat sibuk menyiapkan segala sesuatunya pada akan ujian. Salah satunya adalah meng-copy catatan teman untuk dibaca. Padahal mahasiswa yang bersangkutan termasuk mahasiswa yang rajin kuliah punya catatan sendiri, tetapi merasa catatan sendiri tidak lengkap. Jika ujian dilakukan secara opened book yang disiapkan adalah segala macam buku ditambah segala sesuatu yang bisa di-copy tidak peduli diperlukan atau tidak, yang penting di-copy dulu agar jiwa cukup tenang menghadapi ujian. Apa yang terjadi saat ujian? Waktu banyak terbuang untuk bolik balik kertas mencari sumber jawaban ada dimana? Tipikal ujian opened book tentunya tidak akan menanyakan persis seperti apa yang terurai di buku. Melainkan menanyakan aspek kemampuan analisis mahasiswa terhadap persoalan tertentu berdasarkan kerangka teori atau konsep yang pernah dibahas.

Lain lagi kejadiannya saat saya menerapkan aturan yang lain untuk ujian misalnya ujian dengan opened note. Artinya ujian boleh dilakukan dengan melihat catatan, dimana catatan harus tulisan tangan sendiri maksimum satu lembar kertas double folio. Tujuan saya sebenarnya adalah agar mahasiswa mencatat yang diperlukan untuk ujian. Jika mereka mencatat pasti sebelumnya sudah membaca terlebih dahulu dari buku. Dan tidak mungkin seluruh isi buku dipindahkan kedalam selembar kertas double folio. Tentunya mencatat seperti ini memerlukan keahlian tersendiri yaitu keahlian menyimpulkan isi buku dan memindahkannya ke catatan, serta kembali menjelaskan isi catatan sesuai dengan pertanyaan yang keluar di ujian. Apa yang dilakukan mahasiswa? Sebagian yang belajar dengan baik bisa dengan sukses melewati ujian. Yang membaca setengah-setengah dan selama kuliah tidak yakin dengan catatan sendiri biasanya akan meminjam catatan temannya, dan kembali menyalin penuh seperti “contekan” tersebut. Mengapa disalin persis? Soalnya tidak boleh membawa catatan copi-an alias harus tulisan tangan sendiri. Apa yang terjadi dengan mahasiswa model ini. Hasil ujian tetap tidak optimal karena mereka tidak dapat sense dari apa yang dicatat, alhasil tidak dapat menjelaskan dengan baik.

Persoalan diatas juga saya alami saat jadi mahasiswa dulu. Ternyata mencatat kuliah atau sesuatu yang didengar, mencatat hasil meeting misalnya perlu keahlian khusus. Yang mana keahlian ini sejatinya wajib dimiliki semua orang yang ingin belajar tentunya. Pada dasarnya catatan adalah suatu alat yang dapat dipakai untuk membantu kita dalam menata fikiran sehingga dapat menghasilkan suatu tindakan yang tepat. Dalam proses pembelajaran kebetulan dikampus atau sekolah ujian mungkin memang salah satu yang dapat dijadikan alat untuk melihat seperti apa seorang siswa menata fikiran. Namun sebenarnya bagaimana menata fikiran dengan baik sangat penting dalam kehidupan sehari, misalnya untuk menjawab hal berikut: Menemukan ide yang inovatif dan jalan keluar kreatif, Menetapkan tujuan dan mencapainya, mengubah karir dan memulai usaha baru, menyajikan presentasi dengan istimewa dan percaya diri, menulis tentang sesuatu dsb.

Tony Buzan mengajarkan teknik mengorganisasikan fikiran dengan cara membuatkan peta (map) atas permasalahan yang ingin diselesaikan. Mind map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind map merupakan cara mencatat yang kreatif dan efektif, dan secara harfiah akan memetakan fikiran-fikiran kita. Mind map ini sangat sederhana untuk diterapkan. Mind map juga merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan, memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran semikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan catatan tradisional.

Dengan membuat peta pikiran (mind map) sama halnya seperti melihat peta jalan sehingga akan membantu untuk:

  • Memberi pandangan meyeluruh tentang pokok maslah atau area yang luas.
  • Memungkinkan merencanakan rute atau membuat pilihan-pilihan dan mengetahui ke mana kita akan pergi, dan dimana kita berada.
  • Mengumpulkan sejumlah besar data disuatu tempat.
  • Mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita untuk melihat jalan-jalan terobosan kreatif baru.
  • Menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna dan diingat.

Semua mind map mempunyai ciri yang sama, sebaiknya gunakan warna. Memancarkan struktur alami yang memancar dari pusat, menggunakan garis lengkung , simbol, kata dan gambar yang disesuaikan dengan rangkaian aturan alami, mendasar dan sesuai dengan cara kerja otak. Dengan mind map daftar informasi yang panjang dapat dialihkan dengan diagram warna-warni, sangat teratur, mudah diingat dan bekerja selaras dengan cara kerja otak dalam melakukan berbagai hal.

Bagaimana cara membuat Mind Map?

  • Buat gambar/simbol dan/atau tulis kalimat pendek di tengah kertas yang mewakili topik.
  • Gunakan kata kunci.
  • Ambil gagasan-gagasan utama, tarik garis cabang dari gagasan inti. Gunakan garis-garis lengkung.
  • Berhenti dan fikirkan. Tulis pertanyaan di tempat yang belum dipahami.
  • Tarik garis antara gagasan-gagasan yang berhubungan (kelompokkan)
  • Gambar ulang. (Jangan kesal kalau gambar anda berantakan, di ulang saja karena ini sebuah proses belajar)
  • Gunakan warna , simbol, dan gambar.
  • Bedakan halaman satu dengan lainnya
  • Sisikan ruang untuk menyisipkan hal-hal yang terlupa.
  • Posisikan kertas secara horizontal

Selamat mencoba.

Sumber: Idrianita

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,172 other followers

%d bloggers like this: